Lihat ke Halaman Asli

Giri Lumakto

TERVERIFIKASI

Pegiat Literasi Digital

Semua yang Salah Soal Integrasi WhatsApp, Instagram, dan Messenger

Diperbarui: 26 Januari 2019   17:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Facebook - Foto: pexels.com

Facebook yang sedang menyusun infrastruktur integrasi beragam platform media sosial cukup memprihatinkan. Instagram (IG) yang dibeli Facebook di tahun 2012 dan WhatsApp (WA) pun diakuisisi tahun 2014. Saat ini direncanakan untuk digabungkan bersama native platform Facebook sendiri, Messenger (MS). 

Integrasi ini salah dari beragam perspektif. Baik secara etis, prinsip, dan niche platform sosial media itu sendiri.

Greed atau ketamakan akan ads revenue atau sisi finansial iklan sepertinya merajai etika Facebook. Disatukannya 3 platform media sosial 'milik' Facebook mengaburkan batas-batas target iklan kepada para users.

Saat FB dan IG diisi dengan beragam iklan. Baik yang beriklan resmi via platform atau endorser/influencer di FB dan IG. Bagaimana jika para pengiklan 'meng-crawl' alias mengkalkulasi perilaku konsumen di WA?

WA sebagai platform chat yang berfokus pada privasi, tanpa iklan, dan personal. Bukan tidak mungkin, perilaku konsumen terbaca jelas via integrasi ketiga platform. Dimana data users dikumpulkan, dipilah, dan dikluster dengan indikator yang lebih dalam dan khas.

Kebocoran 80 juta users data gegara skandal Cambridge Analytica, sudah menumbuhkan mindset anti-trust pada Facebook. WA pun mengundang banyak kontroversi di Brazil. Setelah kabar kampanye hitam dan ujaran kebencian Presiden terpilih Brazil diviralkan via WA.

Transparency. We believe that this transparency enables users to make more informed decisions about their activities on Facebook.  (Prinsip Transparansi Facebook, dalam dokumen Security and Exchange Commission tahun 2012)

Jika jumlah users FB plus MS, WA dan IG ditotal. Maka akan ada sekitar 4 miliar users. Walau mungkin tiap kita memiliki ke empat aplikasi dalam satu gawai. Namun menilik budget pengiklan di FB yang mencapai 40 miliar USD. Nampaknya kesan users tak lain adalah pembeli begitu kental dalam isu merger ke empat platform.

Baik developers (dalam hal ini FB) dan users (kita) dilanggar secara etis. FB sudah sejak tahun 2012 bertransformasi menjadi 'the new Google'. Yang awalnya FB adalah platform pemersatu mahasiswa Harvard. Kini telah berubah bukan sekadar media bersosialisasi.

Lab Mouse - Foto: pixabay.com

Selain sebagai pasar bebas e-commerce. FB kini menjadi laboratorium besar manusia dan dinamika sosialnya. Dan kita menjadi tikus-tikus percobaannya.

Genosida di  Myanmar juga diinstigasi hate speech dan propaganda via FB. Bahasa Myanmar yang begitu kontekstual maknanya dibiarkan berlarut-larut. Walau flagging dan laporan sudah ada. Sedikit personil FB yang benar-benar melihat indikasi kerusuhan etnis sejak 2015.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline