Lihat ke Halaman Asli

Fradj Ledjab

Peziarah

Identitas dan Misi Pendidikan

Diperbarui: 27 Mei 2021   12:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Tulisan ini merupakan adaptasi dari apa yang pernah saya sampaikan dalam sambutan Perayaan 50 Tahun SMP Frater Kendari,  tanggal 28 Januari 2020 dengan penambahan dan pengurangan seperlunya. 

Pendidikan saat ini menjadi salah satu lembaga yang paling merasakan efek dan tantangan nyata dari mewabahnya  Coronavirus Disease atau Covid-19 secara global. 

Pemerintah, pendidik; guru, dosen, termasuk orang tua serta generasi muda; peserta didik, mahasiswa sama-sama berjibaku  agar 'dapur' pendidikan terus berasap. Kreativitas dan inovasi sangat perlu dalam menghadapi situsi yang runyam demikian. Proses pembelajaran menuntut transformasi yakni dari konvensional ke digital melalui optimalisasi sarana teknologi. 

Ini menjadi tantangan dan tuntutan dunia pendidikan saat ini. Namun realitas berkata lain. Pertama, haruslah jujur bahwa sarana prasarana teknologi informatika di negeri ini belum merata terutama di daerah atau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Teknologi digital membutuhkan sarana pendukung agar adanya digitalisasi (konektivitas) dan kita yakin bahwa pemerintah terus megupayakan agar kebutuhan akan teknologi informasi dapat terkoneksi. 

Kedua,  Tidak semua pelaku pendidikan melek teknologi  dalam hal ini pemanfaatan aplikasi pembelajaran yang telah tersedia dan dapat diakses dengan mudah kapan dan di mana saja karena konektivitas jaringan mendukung. 

Persislah di sini mindset menjadi masalah klasik; sudah merasa nyaman dengan sebuah cara (proses pembelajaran) sehingga sulit untuk bergerak keluar dari ruang kenyamanan tersebut. Ini bisa menjadi bahaya dan jika diteruskan maka akan menimbulkan dosa kelalaian karena kenyamanan. 

Ketiga, pelaku pendidikan (guru) megalami self doubt yakni ragu dan kurang percaya akan kemapuan sendiri dalam mengelolah teknologi pembelajaran karena menganggap peserta didik jauh lebih baik dan oleh karenanya akan merasa malu jika siswa tahu akan ketidaktahuannya. Ini juga dosa klasik guru yang selalu mau dilihat serba bisa, tidak boleh salah dan siswa dianggap sebagai kertas putih kosong yang perlu 'dikotori' dengan pengetahuan. 

Nah, di sinilah kemampuan guru dalam mengelaborasi proses pembelajaran perlu mendapat evaluasi diri yang serius untuk menuju pada prinsip bahwa guru dan peserta didik adalah sama-sama pembelajar. Hal ini perlu ditanam di kepala sorang pendidik. 

Covid-19 selain membawa bencana, duka, dan kecemasan tetapi dari kaca mata positip membawa berkah dan lompatan dalam dunia pendidikan sebagai shock effects terhadap proses dan cara pendidik dalam mengelolah pendidikan terlebih agar bisa beranjak keluar dari tiga kelemahan yang telah disebutkan di atas. Pendidikan tidak boleh kalah dengan apapun. 

Hanya melalui pendidikan generasi bangsa terlahir menjadi generasi yang berkarakter dan kecakapan sebagai bagian dari kedalaman intelektual yang menghantarnya menuju masa depan lebih baik. 

Paradoksnya adalah untuk menghasilkan out put yang unggul berkarakter diperlukan pula pendidik yang juga unggul berkarakter. Kita kenal buah yang baik jatuh dari pohon yang baik. Mengapa Kentucky Fried Chicken (KFC) sampai hari ini tetap digemari lidah global? Kita pastikan kualitas, baik menu dan orang-orang di dalamnya menjadi tuntutan yang tidak tawar menawar. KFC menjadi sebuah perusahaan yang tetap eksis karena otonom dan profesional yang bebas dari pengaruh. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline