Lihat ke Halaman Asli

Pesan Penutup Sang Pembawa Pesan

Diperbarui: 11 Februari 2017   17:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Dalam kehidupan selalu ada risalah atau pesan yang harus disampaikan dari satu pihak ke pihak lainnya. Beberapa merupakan hal penting dan harus disampaikan bagi kebaikan pihak yang mendapatkan pesan. Secara harfiah, “pesan” memiliki makna sebagai pemberitahuan, kata, atau komunikasi, baik lisan maupun tertulis yang dikirimkan dari satu pihak ke pihak lain.

Karena begitu pentingnya arti sebuah pesan, figure-figur yang dipilih sebagai pembawa pesan bukanlah merupakan figure sembarangan. Karena jika pesan yang hendak disampaikan gagal untuk dimengerti bahkan gagal sampai pada tujuan, maka kekacauan lah hasilnya.

Kita dapat membayangkan tentang risalah ke-Nabian yang dibawa oleh figur-figur terpilih, figur baik dan benar sebagai utusan Illahi yang membawa pesan keselamatan bagi umat manusia. Tentang pesan, saya juga mengingat satu film berjudul The Messenger, Story of Joan of Arc. Tentang gadis bernama Joan yang mendapatkan kehormatan sebagai pembawa pesan untuk menyelamatkan bangsanya, Prancis.

Sebagai seorang gadis, Joan diremehkan atas pesan bahaya yang ia sampaikan pada Raja Prancis saat itu. Namun, terbesit dalam nurani sang raja untuk segera mengambil keputusan atas pesan yang disampaikan Joan. Raja percaya tentang pesan yang Joan sampaikan dan akhirnya Joan dapat selamatkan bangsa dan keluarganya dari ancaman kematian akibat invasi Inggris.

Ingin saya garis bawahi, pesan, pembawa pesan maupun penerima pesan adalah pihak yang saling berkait. Pada fase berikutnya saling membutuhkan.

Begitu pula dengan sosok pemimpin. Pemimpin dalam frasa politik kekuasaan, yang memimpin rakyat pada satu wilayah. Pemimpin adalah pembawa sekaligus penerima pesan, menjadi pemimpin adalah berkah dan bencana pada satu waktu. Bahkan, ketika khalifah Umar bin Khattab diangkat menjadi pemimpin umat (khalifah), beliau menangis. Beliau tidak menghendaki tampuk kepemimpinan karena merasa tak mampu dan takut jika melakukan kesalahan dalam memimpin.

Pilkada Bekasi dan Penyampaian Pesan

Senin, 6 Februari 2017

“Bekasi tidak bisa kita biarkan terus begini. Harus ada perubahan. Harus ada perbaikan.”

“Tidak boleh ada lagi warga sakit tidak mampu berobat. Tidak boleh ada lagi orang tua yang stress ketika menyekolahkan anaknya. Tidak boleh ada lagi anak-anak muda yang susah mencari pekerjaan.”

“Bekasi sekarang sedang membutuhkan kita semua, untuk sama-sama berusaha menyelamatkan masa depan Bekasi dan anak cucu kita.”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline