Lihat ke Halaman Asli

Pandangan Sosiologi dalam Penerapan Pembelajaran Bahasa Asing di Sekolah, Perlukah?

Diperbarui: 11 November 2020   18:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Mata pelajaran yang seperti kita tahu bahwa memuat beberapa kajian-kajian Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial dan pengetahuan berbahasa. 

Di sekolah pelajar dituntut untuk memahami dan mengerti semua mata pelajaran yang berada di kelas. Namun, kemampuan pelajar hanya sebatas minat dan bakatnya saja. 

Seorang tenaga pendidik tidak perlu memaksakan pelajar agar dapat memahami semua mata pelajaran. Semua mata pelajaran yang berada di kurikulum Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat mata pelajaran yang berbeda-beda. Ada pula mata pelajaran yang selalu ada di kurikulum sekolah, salah satunya adalah bahasa asing yaitu bahasa Inggris.

Tingkatan bahasa inggris di dalam kurikulum sekolah berbeda-beda, dari mulai kemampuan reading, writing, listening serta speaking. Pada kenyataannya, banyak materi yang disajikan dari SD hingga SMA yang selalu sama. Kemudian dalam praktik pembelajaran di sekolah, fokus utama kebanyakan pemaparan materi saja yaitu hanya kemampuan reading dan writing. Padahal pelajar mengeluhkan kemampuan speaking dan listening yang kurang dan membutuhkan peningkatan. Sehingga sekolah mencetak generasi yang hanya memiliki skill reading dan writing saja.

Selain bahasa inggris, pada pendidikan tingkat menengah atas beberapa sekolah menerapkan bahasa asing pada mata pelajarannya. Yang kita tahu bahasa asing yang diterapkan biasanya hanya bahasa Jepang, bahasa Arab, bahasa Perancis maupun bahasa Jerman. Jadi, apakah perlu pendidikan bahasa asing diterapkan di sekolah ?

Bahasa asing yang diterapkan di kurikulum sekolah bukan semata-mata dibuat begitu saja tetapi memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi lingkup nasional dan internasional pada perubahan global ini. 

Akhir tahun 2019, Indonesia diguncang oleh pernyataan Mendikbud, Nadiem Karim terkait masalah dihapuskannya mata pelajaran Bahasa Inggris dan hanya dihabiskan pembelajarannya di pendidikan tingkat SD. Berita ini membawa kehebohan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Yang perlu digaris bawahi adalah penyataan tersebut belum sepenuhnya benar. 

Jika melihat keadaan zaman yang sudah dipengaruhi globalisasi, pelajar membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik guna berkomunikasi dengan negara lainnya. Bukan hanya Bahasa Inggris saja tetapi bahasa-bahasa asing lainnya. 

Kemampuan komunikasi dalam berbahasa lainnya tentu dapat diwujudkan di dalam pembelajaran di sekolah yaitu dengan memasukan bahasa asing sebagai salah satu kurikulum pembelarajan.

Jika kita kaitkan dengan teori sosiologi, maka yang harus kita lihat media interaksinya. Interaksi sosial menurut ahli sosiologi Soerjono Soekanto dalam bukunya Pengantar Sosiologi, adalah proses sosial mengenai  cara-cara  berhubungan  yang  dapat  dilihat  jika  individu  dan kelompok-kelompok  sosial  saling  bertemu  dan  menentukan  sistem dan  hubungan  sosial. 

Pola interaksi yang terjadi disekolah merupakan suatu komunikasi antara individu dengan individu atau pun kelompok. Seperti yang kita lihat bahwa interaksi merupakan membutuhkan sebuah media pengantar yaitu bahasa. Peran bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi yang menghubungkan interaksi sosial sebagai pencapain tujuan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline