Lihat ke Halaman Asli

Efrem Siregar

TERVERIFIKASI

Tu es magique

Guru sebagai Puisi bagi Murid-murid di Masa Pandemi Covid-19

Diperbarui: 29 April 2021   16:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi pembelajaran melalui webinar guru. (Dok. EDUVERSAL via Kompas.com)

Guru memiliki tugas baru dalam proses pengajaran di masa pandemi. Ada perubahan besar dari kebiasaan lama seperti pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.

Dalam periode yang penuh keseskan ini, guru setidaknya menghadapi dua isu penting, menurut hemat saya, yang diemban secara beriringan. Pertama, bagaimana guru harus menyesuaikan diri terhadap penggunaan teknologi informasi. Kedua, bagaimana ia harus menjadi puisi kepada anak didiknya dalam masa pandemi.

Belajar dari Rumah

Sejak kasus pertama virus corona diketahui pada Maret 2020, perubahan mulai terjadi di segala sektor: industri, kesehatan, keuangan dan tidak ketinggalan pendidikan. Sekolah diliburkan dengan kata lain, murid dan guru melaksanakan pola Belajar dari Rumah (BdR).

Berjalannya waktu, murid mengalami kejenuhan. Survei UNICEF pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni 2020 sebagaimana dikutip dari buku panduan BdR Kemendikbud menyebutkan bahwa 66 persen dari 60 juta peserta didi di Indonesia mengaku tidak nyaman belajar dari rumah selama pandemi Covid-19.

Disebutkan pula bahwa peserta didik merasa kurang memperoleh bimbingan oleh guru selama pandemi. Dan pada bersamaan, orangtua merasa ketidaknyamanan ketika anaknya melakukan pembelajaran dari rumah. Orangtua belum siap mendidik anaknya di rumah

Guru pada akhirnya memikul beban baru dalam masa pandemi, sebagai guru juga sebagai orangtua yang akan menentukan masa depan generasi Indonesia.

Guru sebagai puisi

Muncul pertanyaan, dengan semua persoalan pendidikan selama masa pandemi, muncul pertanyaan, adilkah ini kepada guru?

Orangtua dan murid barangkali akan menyederhanakan keadilan itu berdasarkan prinsip transaksi: saya membayar Anda, dan Anda harus memberikan imbal balik. Tujuan pendidikan pada akhirnya yang sejauh ini kita dapati berangkat dari motif ekonomi semata.

Andai kata orangtua memberikan 'uang saku' kepada sekolah agar memberikan perlakuan ekstra untuk mendidik anaknya, tentu persoalan ini mengakibatkan dilema bagi anak didik itu sendiri. Muncul kekhawatiran diskriminasi antarmurid yang membayar lebih dengan yang tidak. Jelas bahwa uang atau motif ekonomi bukanlah solusi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline