Lihat ke Halaman Asli

Uta

You know who I am

Salahkah Bertahan sebagai Single Mother?

Diperbarui: 11 Maret 2020   12:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi single mother (Thinkstockphotos via kompas.com))

Setiap 8 Maret, peringatan Hari Perempuan Internasional diselenggarakan di berbagai penjuru dunia. Di salah satu sudut kota Jakarta, tepatnya di depan Kantor Bawaslu, menjadi lokasi dalam menyuarakan gerakan bersama perempuan yang diselenggarakan oleh Women’s March Jakarta. 

Tak hanya itu, banyak perempuan berlomba-lomba menyuarakan hak mereka melalui platform media sosial serta mengunggah berbagai konten mengenai perempuan.

Di antara berbagai suara yang diserukan, ada satu yang menarik perhatian saya. Sebuah stigma yang terjadi dalam kehidupan seorang perempuan, khususnya bagi seorang ibu, yaitu pertanyaan: “Kapan menikah lagi?”

Pertanyaan itu seakan merujuk kepada orangtua tunggal yang dianggap tidak mampu menghidupi keluarganya sendiri. Orangtua tunggal atau single parent memang identik dengan perempuan, sebagai seorang ibu. Namun seorang pria juga dapat menjadi single parent. Kali ini saya hanya akan membahas mengenai stigma tersebut yang ditujukan bagi seorang single mother.

Tidak mudah menjadi seorang single mother, namun kekuatan untuk menjadi single mother muncul dari ketulusan hati seorang ibu. Siapa yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Segala hal dilakukan oleh seorang ibu tunggal demi kebahagiaan buah hatinya. Memenuhi asupan gizi, pendidikan, hingga kehidupan moral. 

Seorang ibu tunggal juga kerap kali mendapat penghakiman dari sekitarnya. Alasan para penghakim ini sangat klasik, "agar anakmu dapat lebih terjamin hidupnya". Sadarkah kalian bahwa terkadang kalimat tersebut mematahkan semangat dari seorang ibu tunggal?

Seorang ibu menginginkan hidup anaknya lebih terjamin, namun tidak semua ibu ingin kembali memiliki hubungan hanya karena ingin hidup anaknya lebih terjamin. Tidak semua ibu memiliki latar yang sama sebelum menjadi seorang single mother.

Ada yang sendiri karena suatu perpisahan resmi, sebut saja perceraian. Ada yang ditinggal mati hingga ditinggal kawin lagi. Namun ada yang lebih menyakitkan karena sedari awal tidak pernah ada yang bertanggung jawab terhadap ia dan buah hatinya.

Berbagai latar ini tentunya akan menumbuhkan keinginan yang berbeda dalam menjalin kasih kesekian kalinya.

Jangan lupa bahwa setiap manusia memiliki hak dalam menentukan hidupnya, termasuk seorang ibu. Seorang ibu berhak untuk menentukan kelanjutan hidup bersama anak-anaknya, apakah bersama orang lain menjadi lebih baik atau justru membesarkan anak sendiri lebih baik? 

Tidak hanya tentang stigma, asumsi tentang bahagia adalah uang juga semakin menekan kehidupan para ibu tunggal. Banyak yang beranggapan bahwa seorang anak yang bahagia hidupnya bila terlihat terjamin dari segi keuangan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline