Lihat ke Halaman Asli

Amato yang Tak Kebetulan: Perenungan di Penghujung Minggu

Diperbarui: 19 November 2023   09:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Amato Yang Tak Kebetulan: Perenungan Di Penghujung Minggu (Sumber: Dokumen Pribadi)

Hari sabtu (18'11'2023) libur kerjaan. Libur ini saya gunakan mengunjungi sebuah outlet buku di kota Bandung. Cuaca mendung, hampir turun hujan ketika langkah kaki memasuki outlet buku itu.

Tak berselang lama didalamnya, pandangan saya terhenti pada sebuah buku terpajang di sebuah rak, "Lautan Rempah - Peninggalan Portugis di Nusantara." karya Joaquim Magalhaes de Castro, seorang penulis, peneliti, dan jurnalis berkebangsaan Portugis. Buku ini pernah saya baca dua tahun silam.

Apa ini sebuah kebetulan? Entahlah. Yang jelas buku itu berhasil menarik saya merenung dua pengalaman terkait cerita pertama kali bertemu dan membacanya dua tahun lalu.

Hujan mulai turun ketika pikiran saya diajak merenung kembali dua pengalaman itu.

Pengalaman pertama, terjadi hari Rabu, 19 Mei 2021. Hari itu saya bertamu ke rumah seorang teman, sesama orang Maluku. Ia seorang polisi bertugas di Bandung.

Pertemuan kala itu saya anggap tak kebetulan. Ngobrol menggunakan dialek Ambon, ditemani segelas teh manis dan makanan ringan khas Maluku. Rasanya tak kebetulan. Seperti sedang berada di Ambon. Sebuah momen pulang kampung walau tak secara fisik, melainkan melalui suasana.

Menarik, sebelum berpisah kami saling menyapa dengan menggunakan salam perpisahan khas daerah asal kami, yaitu Amato.

Amato adalah sebuah sapaan, memiliki dua pengertian yang berbeda tergantung penggunaannya saat berpisah dengan seseorang. Pertama, berarti selamat tinggal, digunakan oleh orang yang akan pergi. Kedua, berarti selamat jalan, digunakan orang yang tinggal sebagai sapaan balasan.

Pengalaman kedua, tiga hari berselang, Sabtu, 22 Mei 2021. Bukan kebetulan hari itu saya berkenalan dengan Joaquim Magalhaes de Castro lewat bukunya, Lautan Rempah - Peninggalan Portugis di Nusantara. Moment pertama kali membaca buku itu.

Dalam buku itu, Joaqium memotret hasil koeksistensi (hidup berdampingan) selama 150 tahun antara orang Portugis dan Indonesia. Bahasa, musik, tarian, busana, legenda (cerita rakyat), arsitektur, agama, adalah sebagian warisan yang ditinggalkan bangsa Portugis yang masih bisa ditemui saat ini dibeberapa pulau di Nusantara, termasuk di Maluku.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline