Lihat ke Halaman Asli

Djulianto Susantio

TERVERIFIKASI

Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Pada 1682 Dua Utusan Sultan Banten Bertemu Raja Inggris dan Diberi Gelar "Sir"

Diperbarui: 3 Juli 2018   19:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dua utusan Banten ke Inggris (Dokpri)

Buku-buku sejarah mengatakan penjajahan Nusantara bermula sejak kedatangan Belanda di Banten pada 1596. Sebenarnya tujuan utama mereka datang ke Banten untuk berniaga. Pada saat itu hingga abad ke-17, Kesultanan Banten sedang berjaya.

Perdagangan internasional tersebut terjadi lewat pelabuhan Karangantu. Karena kedatangan bangsa asing, Banten menjadi makmur. Cerita tentang Kesultanan Banten memang hanya tinggal sejarah. Namun kejayaan dan peninggalannya masih dapat dilihat di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, di Desa Banten, Kecamatan Kasemen. Banten Lama merupakan istilah yang diberikan kalangan arkeologi, untuk membedakannya dari Banten Girang.

Museum Banten Lama berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Serang. Saya dipesankan ojek online dari Museum Negeri Banten. Terakhir saya ke sana sekitar 20 tahun yang lalu. Dulu naik angkot dari terminal Ciceri dan melewati Pasar Rau. Sangat jauh berbeda melihat kondisi sekarang.

Gambaran kotak ekskavasi (Dokpri)

Karena pernah menjadi pusat perdagangan internasional, banyak temuan arkeologi terdapat di sana. Penelitian arkeologi di Banten Lama dimulai sejak 1976. Selain itu banyak penemuan benda arkeologi oleh masyarakat secara tidak disengaja.

Ironisnya, banyak pula pencurian dan perusakan bangunan, mengingat di kawasan Banten Lama terdapat sisa-sisa keraton Surosowan, keraton Kaibon, masjid kuno, benteng Speelwijk, pengindelan, kelenteng, dan masih banyak lagi.

Benda-benda kuno tersebut semula disimpan di gudang asrama dekat Masjid Agung Banten. Lama-kelamaan karena jumlah temuan dan sumbangan masyarakat semakin banyak, didirikan gedung sendiri yang berfungsi sebagai pusat informasi.

Sejak 1983 diperluas menjadi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Peresmian museum dilakukan pada 1985. Bangunan museum memiliki luas 778 meter persegi di atas tanah seluas 10.000 meter persegi.

Berbagai koleksi gerabah (Dokpri)

Meriam
Di halaman depan area museum, terdapat meriam Ki Amuk yang memiliki panjang sekitar 2,5 meter. Pada meriam terdapat tiga buah prasasti dengan aksara dan bahasa Arab. Menurut K.C. Crucq, salah satu prasasti menunjuk kepada angka tahun 1450 Saka atau 1528/1529 Masehi. Begitu yang saya baca dalam buku Laporan Penelitian Arkeologi Banten 1976 (Jakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala, 1978). Ada pula hiasan pintu gerbang Keraton Surosowan yang terbuat dari batu.

Masuk ke dalam bangunan museum, pengunjung akan disambut dua gerabah berukuran besar. Gerabah itu sudah retak dan tampak bekas tambalan, namun tetap memperlihatkan sisa-sisa kejayaan zaman Kesultanan Banten Lama.

Koleksi-koleksi yang dipamerkan merupakan hasil ekskavasi (penggalian arkeologis) dari situs-situs di kawasan Banten Lama. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokan menjadi Mata Uang, Keramik, Etnografi, dan Arkeologi.

Koin asing banyak ditemukan di situs Banten Lama. Terbanyak koin VOC dan koin Cina. Ada lagi keramik, terdiri atas keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal disebut gerabah atau tembikar. Keramik asing mengacu pada keramik-keramik dari luar Nusantara, seperti Cina, Jepang, dan Eropa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline