Lihat ke Halaman Asli

dedi s. asikin

hobi menulis

Menelisik Potensi Laut Tasik Selatan

Diperbarui: 27 Februari 2021   13:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Sudah lebih dari 10 tahun masyarakat selatan Tasikmalaya berjuang untuk mendapatkan hak menjadi daerah otonom. Namanya juga sudah dirancang Kabupaten Tasik Selatan. 

Ini bukan sparatisme. Ini semangat untuk akselerasi pembangunan di pakidulan tatar sunda. Juga untuk mendapatkan pelayanan publik dari aparatur negara secara cepat tepat dan berkepastian. Sampai sekarang tiada hasil. Bahkan tak berkepastian. Sebagai sesama "budah laut", jujur saya ikut prihatin. Kata prihatin itu saya perhalus dari rasa yang sesungguhnya, kecewa. 

Kenapa Tasik Selatan yang sudah slotokan sana sini, bahkan sudah ketemu Gubernur Ahmad Heriawan, masih mandeg? Keduluan diteruskanya calon DOB baru oleh daerah lain yang namanya baru muncul. 

Tapi kekesalan itu agak sedikit berkurang sekarang. Apa pasal ? Belum lama ada penjelasan pak Gubernur Ridwan Kamil bahwa calon-calon DOB di Jabar selatan kajianya belum lengkap. 

Belum ada kajian tetang potensi laut. Itu penting, kata kang Emil. Meski merasa tidak punya posisi, meski mengakui punya otak cetek dan pengetahuan "heureut". Miskin pengalaman dalam hal survey surveyan dan teliti meneliti, saya ingin mencoba ikut menelisik tentang potensi samudra hindia di selatan Tasikmalaya itu. 

Dari debur ombak yang tak pernah henti, yang tak bosan-bosan menepi di pantai yang membentang 52 km dari Ciheras di tepi barat sampai Cimanuk di ujung timur, sesungguhnya berkah selalu melimpah. Potensi laut itu berupa berjenis-jenis ikan tangkap, ikan budi daya dan biota laut lain seperti kerang, kepiting, rumput laut, penyu dan lain-lain. 

Katanya di Indonesia ini ada 22 jenis biota laut yang bisa dibudidayakan. Jangan lupa asin laut juga mengirim kita bahan baku garam. Anehnya kita malah lebih suka mengimpor itu barang. 

Dulu waktu saya masih "budak", urang Sindangkerta dan Cipatujah, secara orang perorang suka membuat garam sendiri dengan mengendapkan air laut. Tuhan juga menganugrahi kita keindahan sepanjang pantai. Itulah potensi wisata. Semua anugrah itu jika diolah bisa menjadi potensi. Potensi ekonomi dan potensi kesejahteraan lahir batin bagi semua orang. 

Yang jadi masalah kita belum ngeh dan mampu mengolahnya secara baik dan seksama. Kekayaan alam itu katanya baru bisa dimanfaatkan sekitar 13,7 % saja. 

Itu pernyataan Ketua HNSI kabupaten Tasikmalaya beberapa waktu yang lalu. Saya prediksi perkembangan setelah itu tidak cukup signifikan. Jadi masih gitu gitu juga. Yang jadi kendala kata, Dedi Mulyadi, nelayan kita masih tradisional. Belum terlatih. 

Peralatan tangkap masih berupa perahu perahu kecil berskala 1 sampai 2 GT. Daya jelajahnya cuma 2 mil laut. Kita juga tak punya dermaga untuk berlabuh. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline