Lihat ke Halaman Asli

Deddy Husein Suryanto

TERVERIFIKASI

Content Writer

Pilih iPhone atau Android, Jangan Hanya Terjebak pada Stereotip

Diperbarui: 27 Oktober 2020   06:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi penggunaan ponsel pintar. Gambar: Pexels/Porapak Apichodilok

Membicarakan tentang dua jenis telepon seluler (ponsel) pintar ini, saya terkadang merasa sedikit membuang waktu. Alasannya, itu seperti membicarakan tentang tipe ideal terkait pasangan.

Misalnya, saya memiliki tipe ideal tertentu, ternyata itu tidak berlaku pada tipe ideal Anda, begitu juga sebaliknya. Kurang-lebih demikian persamaan pola pikirnya. Namun, saya tidak bermaksud menyamakan derajat manusia dengan barang. Catat!

Kembali ke topik, yaitu ketika saya dihadapkan pada pembicaraan yang mengharuskan untuk memilih ponsel antara Android atau iPhone, maka saya akan mencari pilihan yang sesuai dengan apa yang cocok dengan saya. Cocok di sini secara mudah memang bisa ditebak dalam kacamata ekonomi, yaitu harga ponselnya.

Tetapi menurut saya, ada juga orang memilih jenis ponselnya bukan berdasarkan faktor ekonomi. Misalnya, ada orang yang memang kaya dengan kewajiban pajak penghasilan sekitar 100 juta lebih per tahun, namun dia ternyata lebih nyaman menggunakan ponsel berjenis Android. Apakah itu aneh?

Menurut saya, itu bukan hal yang aneh. Apa yang dimiliki oleh orang tersebut bukan berdasarkan faktor harga dan jenis ponselnya, tetapi sisi subjektifnya, yaitu kenyamanan si pengguna terhadap ponsel tersebut.

Selain kenyamanan, pengguna ponselnya juga harus memiliki kepercayaan terhadap kinerja ponsel yang akan digunakan. Hal ini seperti yang saya alami ketika dibelikan ponsel oleh ibu saya beberapa tahun lalu ketika masih sekolah.

Waktu itu sedang zamannya pertarungan sengit antar banyak merek ponsel. Menariknya, ponsel saat itu basisnya (sistem operasi) berbeda-beda. Tidak seperti sekarang yang hanya terfokuskan pada Android dan iPhone.

Sistem Operasi sebelum 2010-an, masih beragam. Symbian salah satu yang terkuat. Gambar: Google/BlackBerry OS

Saya juga masih belum ada sisi idealisme dalam menggunakan ponsel. Apa yang ada untuk saya, tinggal pakai saja.

Namun, suatu ketika saya harus berani memilih ponsel apa yang harus saya beli. Saat itu, estimasi harga yang disediakan sekitar 1 jutaan rupiah--kalau bisa pulang dengan kembalian lebih baik.

Jika berdasarkan jenis ponsel yang sedang tren, saya seharusnya memilih ponsel Ss karena Android. Walaupun, belum tentu saya akan menebus versi kelas menengah-idealnya.

Tetapi, saya akhirnya memilih ponsel yang saya ketahui 'versi senternya' sangat tahan banting. Itulah yang membuat saya membeli ponsel merek N. Saya berharap akan bersama ponsel itu cukup lama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline