Lihat ke Halaman Asli

Deddy Husein Suryanto

TERVERIFIKASI

Content Writer

Sepak Bola Indonesia Harus Menghindari Kesalahan Liga Australia

Diperbarui: 13 Agustus 2020   22:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi bola dan covid-19 yang harus berdampingan. Gambar: Getty Images/iStockphoto/Lorado via Detik.com

Sejak sepak bola di Eropa dan dunia telah menggeliat kembali, Indonesia pun berupaya mengikuti. Sebenarnya kompetisi sepak bola Indonesia, khususnya Liga 1, telah digelar selama 3 pekan.

Namun, akibat pandemi covid-19, musim kompetisi 2020 itu harus ditangguhkan. Termasuk kompetisi level lainnya yang malah belum sempat kick-off.

Meski demikian, seiring berjalannya waktu pihak pengelola sepak bola Indonesia baik PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) berupaya untuk mengembalikan kompetisi sepak bola ke permukaan.

Keputusan pun diambil dengan menetapkan bulan Oktober sebagai waktu yang ideal untuk melanjutkan kompetisi. Pro-kontra tak terhindarkan.

Ada yang merasa perlu segera kembali agar neraca keuangan para pelaku sepak bola tak semakin hancur lebur. Namun, ada pula yang sangat sangsi dengan jalannya kompetisi itu nantinya.

Baca juga: Menerka Penyebab Kegalauan Klub Liga 1 Musim Ini

Sebagai masyarakat penonton pun ada yang memaklumi kegentaran pihak-pihak yang masih enggan setuju dengan keputusan comeback tersebut. Tetapi di sisi lain, masyarakat penonton juga diprediksi akan menginginkan kompetisi sepak bola Indonesia kembali.

Ada dua pertimbangan yang mendasari mengapa kompetisi sepak bola nasional harus digelar lagi. Pertama, karena sepak bola nasional juga merupakan bagian dari sepak bola Asia--dan dunia.

Jika kalender musim kompetisi 2020 tidak ada, maka diragukan bagi wakil Indonesia untuk ambil bagian di kompetisi Asia. Jika sudah demikian, maka nanti akan ada saja yang mengkritik--ke federasi--tentang kiprah klub Indonesia yang lagi-lagi tak mampu berbuat banyak di kancah Asia. Padahal, sudah pasti ada alasannya, yaitu pandemi covid-19.

Pertimbangan kedua adalah penggunaan kalender kompetisi. Idealnya ketika sebuah kompetisi menyelenggarakan musimnya di dalam satu tahun penuh, maka ketika terjadi pergantian tahun, itu juga merupakan tanda pergantian musim.

Hal ini yang dilakukan kompetisi di Indonesia, khususnya dalam beberapa musim terakhir. Mereka terlihat seperti berpatokan pada kalender tahunan bukan pada musim--yang digunakan kompetisi di Eropa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline