Lihat ke Halaman Asli

David F Silalahi

TERVERIFIKASI

..seorang pembelajar yang haus ilmu..

Kuliah Tanpa Skripsi atau Tesis, Bisakah Menjadi Bagian dari "New Normal"?

Diperbarui: 6 Juli 2020   05:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photo by Gustavo Fring from Pexels

Awalnya saya memandang rendah ketika dulu ada wacana kampus di Indonesia yang membolehkan mahasiswanya lulus tanpa menulis skripsi. Kuliah macam apa ini?

Skripsi kan muara dari semua perkuliahan itu. Di situlah kemampuan mahasiswa untuk berpikir analitis dan menuliskan dalam satu karya ilmiah. Mahasiswa macam apa yang menghindari skripsi. Demikian pemikiran saya kala itu.

Apakah skripsi yang menjadi esensi kuliah?
Berhubung setelah 10 tahun lalu terakhir duduk di bangku kuliah, untuk mengurai kebekuan otak, maka saya minta izin untuk ikut 'sit-in' pada kelas master di Australian National University. Sit-in di sini maksudnya ikut hadir di kelas, boleh mendengarkan kuliah, mendapat bahan-bahan kuliah, namun tidak terikat pada kewajiban mengerjakan tugas maupun ujian-ujian. Tidak diberikan nilai tentunya.

Saya mengamati bahwa dalam perkuliahan itu sangat cair. Dosen dengan sabar menjelaskan dan mengulang jika diminta.

Tidak ada tekanan, kuliah dibuat semenarik mungkin. Tidak ada pertanyaan bodoh. Apapun pertanyaan, sebelum menjawab, pasti si dosen selalu berterimakasih dan memuji. Ini mungkin yang membuat mahasiswa tidak takut bertanya. Hehe

Apa yang saya amati? Dalam perjalanan salah satu mata kuliah ini. Mahasiswa dituntut untuk bekerja sama untuk menyelesaikan studi kasus yang ditugaskan sang dosen. 

Laporannya pun ada yang dibuat secara mandiri, ada yang dibuat secara berkelompok. Laporan ini sendiri mirip skripsi. Tatacara penulisannya juga sudah menyerupai skripsi Lalu ada juga proyek mandiri yang setara dengan skripsi.

Mahasiswa mengambil tema sendiri lalu mengerjakan secara mandiri, lalu men-submit pada dosen setelah diselesaikan dan ditulis dalam bentuk laporan yang juga menyerupai skripsi.

Nah, di sini lah saya akhirnya menyadari bahwa meskipun program masternya tidak mewajibkan penelitian/tesis. Ternyata dalam perjalanan pembelajarannya, ya sudah 'mengerjakan' skripsi juga. Laporan dan tugas-tugas itu sudah menjadi sepadan dengan 'skripsi', meski tidak disebut skripsi. Hehe

Lalu saya renungkan lagi. Iya juga ya. Skripsi itu tidak terlalu penting juga. Yang paling esensial adalah si mahasiswa mampu berpikir dan menuliskan pun bisa dibentuk dari latihan-latihan dan penugasan tadi. 

Tanpa dihantui kewajiban membuat skripsi, si mahasiswa tanpa sadar sebetulnya sudah dibekali kemampuan membuat skripsi. Mengawali kuliahnya secara psikologis menjadi lebih bahagia. Ketakutan untuk membuat skripsi sudah hilang karena memang tidak ada dalam silabusnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline