Lihat ke Halaman Asli

Jalan Tengah, Kata Baru yang Menyesatkan

Diperbarui: 1 September 2018   08:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Gagasan tentang Jalan Tengah dipercaya menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Hal itu yang menjadi perbincangan dalam acara "World Peace Forum ketujuh" yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 Agustus 2018 di Hotel Sultan, Jakarta (kompas.Com).

Acara "world peace forum" dihadiri oleh 231 ulama, cendekiawan, aktivis, dari berbagai negara dan organisasi internasional. Hadir Mentri luar negeri Retno Marsudi, yang membuka acara tersebut. Indonesia sendiri sebagai penyelenggara secara konsisten mendukung Perdamaian dunia dengan jalan tengah/kompromi. 

Prinsip jalan tengah diyakini sebagai jalan atau pendekatan dalam membangun kehidupan, menyelesaikan masalah yang ada, sangat berorientasi pada nilai-nilai positif, kata Din Syamsuddin, saat konferensi pers untuk menutup acara di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (16/8/2018). Nilai-nilai positif tersebut berupa keadilan, toleransi, kerja sama, inklusi, dan kompromi.

Kata jalan tengah, seolah-olah sebagai sebuah solusi ampuh yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang dialami baik oleh individu, masyarakat, bahkan suatu bangsa, dalam peradaban manusia masa kini. 

Dengan prinsip jalan tengah, seolah semua permasalahan dapat diselesaikan, prinsip jalan tengah sengaja diangkat menjadi sebuah pemikiran, pemikiran yang seolah baik , padahal pemikiran jalan tengah adalah  sebuah pemikiran yang membahayakan dan menyesatkan bagi pemikiran manusia khususnya umat Islam.

Jika ditelusuri apakah hakekat jalan tengah itu ada kesesuaiannya dengan islam? Istilah jalan tengah adalah istilah asing yang datang dari trauma barat terhadap agama Kristiani. Ide ini sebagai jalan tengah atas konfrontasi berdarah antara pihak gereja yang bekerjasama dengan raja mengatasnamakan agama dengan kaum pemikir (ahli filsafat) yang merasa terdzolimi.

Pihak gereja merasa layak untuk mengatur seluruh utusan kehidupan. Sementara ahli filsafat menyatakan agama tidak layak untuk mengatur urusan kehidupan, malah mereka beranggapan agama sebagai penyebab kehinaan dan ketinggalan. Dalam pandangan Barat terutama kaum pemikir  bahwa hanya akal manusialah yang mampu mengatur urusan kehidupan.

Hasil dari perseteruan ini adalah kompromi yaitu jalan tengah. Artinya dari hasil kompromi atau jalan tengah ini, disepakati bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam urusan kehidupan. Baik kehidupan bernegara, berpolitik, berbudaya, hukum, sosial dan interaksi manusia yang lainnya. Agama hanya diberi ruang dalam urusan ibadah yaitu hanya di Gereja. Sementara dalam urusan kehidupan, yang berhak mengatur adalah hukum yang berasal dari akal manusia.

Bagi barat prinsip jalan tengah mungkin sebagai sebuah solusi untuk bisa keluar dari permasalahan yang dihadapi, tapi bagi kaum muslimin sungguh prinsip ini adalah sebagai sebuah bencana. Artinya ketika kaum muslimin mengadopsi prinsip jalan tengah, kaum muslimin akan semakin hancur karena hukum Islam akan tercerabut dari pemikiran kaum muslimin. Halal-haram bisa di kompromi kan, tentu ini sebuah pemikiran yang berbahaya, artinya manusia sudah berani melawan otoritas Allah SWT sebagai pemegang kedaulatan hukum.

Allah SWT begitu menyayangi manusia, khususnya umat Islam, sehingga Allah menurunkan Islam dengan seperangkat aturan supaya manusia khususnya umat Islam sebagai pengembannya bisa selamat dunia akhirat, karena hanya Islam yang Allah ridhoi. 

Dalam firman-nya, "pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah aku ridhoi Islam sebagai agamamu, surat Al-Maidah ayat 3.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline