Lihat ke Halaman Asli

charles dm

TERVERIFIKASI

charlesemanueldm@gmail.com

Makna di Balik Perjalanan Berisiko Paus Fransiskus ke Irak

Diperbarui: 7 Maret 2021   20:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Paus Fransiskus terlibat dialog antaragama di Kota Ur: www.vaticannews.va

"Perdamaian tidak menuntut pemenang atau pecundang, melainkan saudara dan saudari yang, untuk semua kesalahpahaman dan rasa sakit di masa lalu, sedang melakukan perjalanan dari konflik menuju persatuan."

(Paus Fransiskus)

Saat dunia sedang berjuang memerangi pandemi Covid-19 dengan berbagai cara mulai dari vaksin, penerapan protokol kesehatan secara ketat dan membatasi mobilitas fisik terutama kelompok-kelompok rentan seperti kaum lanjut usia, Paus Fransiskus justru melakukan perjalanan ke Irak.

Pemimpin tertinggi umat Katolik sejagad itu sudah berada di Timur Tengah sejak Jumat (5/3/2021). Agenda padat mengisi empat hari kunjungannya. Pertemuan dengan para ulama, para pejabat pemerintah, mengunjungi sejumlah gereja dan tak sedikit dari antaranya hanya tersisa puing-puing, memimpin kebaktian di lebih dari enam gereja, dan mendatangi tempat-tempat di mana umat Kristiani mengalami tantangan yang hebat oleh kekejaman ISIS.

Selain melakukan perjalanan jauh di tengah pandemi yang sangat membahayakan kesehatan, paus 84 tahun itu juga memilih Irak yang belum benar-benar aman baik dari sisi kesehatan maupun keamanan. Irak sedang bertarung dengan gelombang kedua Covid-19 dengan lebih dari 5 ribu kasus baru dalam sehari. Selain itu, kematian akibat serangan roket masih saja terjadi.

Pertanyaan besar pun mengemuka. Mengapa paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio memutuskan untuk tetap terbang ke Irak? Mengapa ia tidak berdiam diri saja di Vatikan seperti yang sudah dilakukannya sejak virus Covid-19 mulai menerjang dunia setahun silam? Mengapa ia merasa perlu ke Irak bahkan untuk jangka waktu yang tidak dibilang singkat untuk sebuah kunjungan kepausan?

Vaksin yang sudah disuntik ke tubuhnya jelas tak menggaransi kesehatannya untuk tak terpapar Covid-19 saat bertemua banyak orang. Irak baru menerima dosis pertama sepekan sebelumnya. Jelas belum ada jaminan sudah terjadi kekebalan kelompok di sana.

Begitu juga lingkungan Irak yang masih akrab dengan bau mesiu akan menempatkan nyawanya dalam bahaya. Sejak serangan AS pada 2003, berlanjut dengan kemunculan ISIS mendekati satu dekade terakhir, Irak tentu belum menjadi sebuah medan yang aman. Para pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus pun harus mengurungkan niat ke Irak.

Apalagi Paus Fransiskus datang tidak sebagai pribadi. Ia bukan orang biasa. Ada otoritas, simbol dan identitas tertentu yang melekat padanya. Sebagai pemimpin agama yang jumlahnya sangat minim di Irak, kehadirannya tidak akan sarat seremoni penuh euforia. Tetapi akan diwarnai oleh kecemasan, kewaspadaan, ketakutan dan bahkan kecurigaan dan penolakan.

Paus Fransiskus di antara reruntuhan gedung:www.bbc.com

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline