Lihat ke Halaman Asli

Hadi Saksono

TERVERIFIKASI

AADC (Apa Aja Dijadikan Coretan)

Seni Komedi, Terlihat Mudah Ternyata Susah

Diperbarui: 1 Maret 2024   18:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(Dari kiri) Kasino, Nasir, Bolot, Malih, Bokir, Indro, dan Dono, Taman Ismail Marzuki 23 April 1983. (Sumber: Kompas/Bre Redana)

Dalam artikel bertajuk "Komedian itu Dewa Kecerdasan" yang diterbitkan di Harian Kompas pada 4 April 1994, personil kelompok Warkop DKI, Wahjoe Sardono alias Dono, mencoba memotret pandangan masyarakat pada dunia seni pertunjukan humor Indonesia di kala itu.

Dono bercerita, suatu ketika Warkop DKI membawakan materi lawakan yang diyakini bisa dipahami oleh penonton yang hadir saat itu:

Alkisah ada seorang tukang koran menjajakan dagangannya dengan berteriak "Waspada...Waspada....Angkatan Bersenjata...Kompas...Kedaulatan Rakyat...!!" Karena teriakan itu, si tukang koran pun dipanggil ke Koramil.

Namun usai pertunjukan, seorang penonton bertanya pada Dono "Mas, lawakan tadi apa maksudnya, ya?".

Dari pertanyaan itu, Dono pun mengerti bahwa masih ada masyarakat yang menganggap humor sebagai pemancing tawa. Sehingga pesan-pesan sosial kemasyarakatan yang ingin ditampilkan dan disampaikan dalam sebuah seni pertunjukan lawak kerap kurang menjadi perhatian hadirin.

Di bagian lain tulisannya. Dono berkisah Warkop DKI pernah membuka 'lowongan' penulis naskah untuk materi komedi yang akan dibawakan kelompok beranggotakan Wahjoe Sardono, Kasino Hadiwibowo, dan Indrodjojo Kusumonegoro ini.

Ternyata sebagian besar naskah yang masuk mayoritas plagiat dan leboh menonjolkan unsur slapstick. Dono menilai naskah seperti ini tidak memancing penonton untuk berfikir pesan yang ingin disampaikan.

Dono pun menilai masih banyak komedian yang memandang naskah hanya sebagai patokan dasar dalam sketsa humor yang ditampilkan. Akibatnya, komedian lebih banyak berimprovisasi di luar naskah.

Dalam artikel lainnya yang juga diterbitkan harian Kompas "Humor Berkelas Adalah Mengkritik", Dono memotret kian kritisnya penonton pertunjukan lawak di era 90-an. Akibatnya lawakan kelompok humor legendaris sekelas Srimulat yang dicitrakan sebagai kelompok lawak tradisional mengalami kejenuhan dari sisi cerita yang ditampilkan pada masa itu.

Masyarakat saat itu menilai lawakan Srimulat tak sesuai dengan era humor kritis dan tidak kekinian.

Opini publik tersebut memang tak bisa disalahkan. Mengingat di era berkembangnya televisi swasta saat itu, acara atau program humor dengan naskah yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman kian bermunculan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline