Lihat ke Halaman Asli

Cak Bro Cak Bro

Bagian dari Butiran debu Di Bumi pertiwi

Strategy Business Initiave: Simbiosis Mutualisme Warung Dadakan (Portable Fodo Stall) Pada Proyek Pembangunan

Diperbarui: 28 Januari 2023   10:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Koleksi pribadi

  • Pengantar

Jum'at ceria kali ini saya coba jogging keliling stadion Gelora Bung Karno atau GBK, Senayan dan setelahnya beristirahat tuk menghilangkan rasa lelah. Namun saya tak mampir di cafe atau resto yang tersedia di pinggir sekeliling stadion, karena saya tertarik adanya warung tenda gerobak minuman (portable beverage cart) yang berada di pinggir jalan kawasan luar stadion. Bukan lantaran mencari harga murah, tetapi kadang ada saja ide menarik saat berbincang-bincang dengan sesama pengunjung berkantong pas-pasan, terutama kali ini saya ingin mengetahui seluk beluk kehidupan mereka yang dengan penghasilan pas-pasan berjuang hidup di belantara kota metropolitan  yang mungkin menarik untuk kita ketahui.

Hal pertama, saya nyatakan salut buat pengelola GBK yang menyediakan gerobak warung minuman bagi pengusaha UMKM di 24 titik kawasan luar stadion tuk akomodir pembeli dengan level gaya hidup minimal yang berolahraga di sana. Berarti pengelola GBK yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) punya peran social dengan memberdayakan dan memberi modal dalam bentuk warung tenda portable bagi UMKM di sekitarnya. Pemilik warung pun bercerita, adanya kebijakan cukup adil dalam perolehan pendapatan warung UMKM, dimana setiap minggu setiap warung tenda dilakukan rotasi tempat/lokasi karena ada titik tertentu lebih ramai pengunjung karena adanya event kegiatan dibandingkan titik lainnya.

  • Kehidupan Para Pekerja/Kuli harian Lepas di Sekitar Stadion

Sambil melepas lelah dan duduk santai di meja portabel yang disediakan, saya pun sempat mengobrol kepada beebrap pengunjung dan kebetulan mereka mengaku sebagai pekerja proyek yang baru saja mendapat cuti untuk pulang ke kampungnya dan mampir sebelum ke tempat proyek disana. Pengunjung warung tersebut ternyata sebagai pekerja lepas (kuli harian) pada proyek pembangunan Gedung Olahraga Basket yang rencana akan dipersiapkan untuk pertandingan kejuaraan FIBA di tahun ini.

Dalam percakapan dengan mereka, saya bertanya secara iseng apa pekerjaan dan berapa penghasilannya. Pekerja lepas merupakan rekrutan dari mandor sebagai sub kontraktor karena dibutuhkan pekerjaan tertentu, misalnya menjaga keamanan barang-barang proyek, membersihkan puing-puing yang harus segera disingkirkan agar tidak mengganggu aktivitas di sekitar stadion, dan sebagainya. Pendapatan kuli harian tersebut biasanya dibayar secara dwi mingguan dengan penghasilan minimum sesuai dengan keahliannya.

Karena timbul empati saya pun bertanya apakah proyek menyediakan makan dan minum bagi mereka, karena tak melihat semacam kantin di proyek tersebut untuk menyediakan makan dan minum bagi mereka, dan seperti kita ketahui di sekitaran wilayah GBK hanya ada resto-resto berharga premium yang mungkin akan menguras kantong mereka. Mereka mengatakan bahwa proyek tidak memungkinkan menyediakan kantin resmi melihat kondisi lokasi pembangunan. Namun demikian menurut penjelasan mereka, di setiap proyek cukup besar umumnya akan ada pengusaha lain bekerja sama dengan Pimpro dengan membuat warung dadakan (portable food stall) untuk memenuhi kebutuhan pekerja. Bahkan mereka bisa berhutang dahulu sebelum mendapat bayaran gaji tiap 2 mingguan dan akan dilunasi oleh para mandor dengan memotong penghasilan para pekerja tersebut. Karena lokasi warung dadakan tersebut berada di dalam proyek, maka pihak pengelola GBK tidak akan mengenakan charge atau sewa.

Adanya warung dadakan (Portable food stall) karena adanya proyek tersebut sangat membantu bagi para pekerja harian lepas dengan pendapatan minimum, bahkan para pekerja harian lepas lainnya di wilayah GBK ( seperti tukang merawat dan menyiram tanaman, para Satpam wilayah GBK) akan berbelanja disana, tentu saja harga makanan cukup murah dan terjangkau bagi ukuran kantong mereka. Mereka juga bercerita, sebelumnya pernah bekerja sebagai pekerja harian lepas bertugas menjadi teknisi-maintenance  AC Sentral di sebuah Mall, dengan terpaksa mencari warung diluar Kawasan Mall untuk membeli makan siang karena harga kantin di Mall pun masih mahal menurut ukuran kantong mereka.

  • Simbiosis Mutualisme Bisnis Pada Proyek Pembangunan

Sesuai dengan pengalaman saya, memang dalam sebuah kontrak pembangunan terkait dengan gaji seorang pekerja akan dibayar sesuai dengan pendapatan UMR dengan memperhitungkan biaya makan, dengan demikian di dalam kontrak tidak ada biaya penyediaan kantin untuk makan bersama bagi pekerja. Namun demikian untuk kegiatan yang tidak terikat dengan kontrak, mereka menggunakan sub kontraktor sesuai dengan kebutuhan, dengan demikian pendapatan pekerja harian lepas dibayar oleh para mandor sesuai dengan kemampuan keuangan dengan banyak pekerja yang dibutuhkan.

Kembali lagi dengan kisah di atas, menurut penjelasan mereka bahwa setiap ada kegiatan proyek besar pastinya akan banyak pekerja disana, sehingga timbul pengusaha bisnis yang menyediakan warung dadakan bagi para pekerja proyek dengan harga yang menyesuaikan dengan kemampuan daya beli mereka. Pengusaha tersebut memang mengkhususkan untuk penyediaan warung portable dengan harga minimalis yang ditempatkan pada proyek tersebut. Tentu saja meeka akan merekrut pegawai dari kampung atau daerah lainnya untuk dipekerjakan diwarung tersebut. Saya mengatakan warung protabel karena tidak dibuat secara permanen, dan masa hidup warung bergantung dengan jangka waktu penyelesaian proyek berakhir, selanjutnya mereka akan berpindah dan mencari lagi proyek besar lainnya.

Memang sungguh menarik fenomena tersebut, terkadang suatu proyek pembangunan umumnya berlokasi di area yang jauh dari pemukiman penduduk. Adanya pengusaha warung dadakan proyek muncul dan adanya semacam hubungan simbiosis mutualisme bisnis yang terjadi. Damapak keuntungan bisnis yang diperoleh dari hubungan tersebut adalah hal pertama,  Pemimpin Proyek (Pimpro) tak perlu pusing memikirkan harus menyediakan kantin makan dan minum bagi pekerjanya dan adanya warung tersebut membantu Pimpro dapat menyelesaikan kegiatan proyek sesuai dengan tenggat waktu kontrak berdasarkan atas jadwal kerja yang disepakati, karena adanya penghematan waktu bagi pekerja proyek untuk tak perlu mencari-cari warung mungkin cukup jauh di luar lokasi proyek, minimal bisa memaksimalkan waktu istirahat agar bisa fresh Kembali dalam pekerjaan berikutnya.

Hal kedua, merupakan keuntungan bagi pengusaha warung makan tersebut karena tak perlu lagi sediakan biaya promosi untuk perkenalkan produknya kepada pelanggan, termasuk biaya pengurusan ijin usaha dari pemerintah lokal, karena sudah tersedianya pelanggan tetap. Dengan demikian, kontuinitas bisnis (life cycle of business ) tetap terjaga sesuai masa proyek pembangunan. Dan terakhir, adanya warung tersebut menguntungkan bagi pekerja proyek disana, karena dengan penghasilan minimum mereka bisa membeli harga makanan terjangkau, bahkan bisa berhutang sebelum mendapat penghasilan (berrarti proyek juga tidak memberikan uang muka atau down payment kepada pekerjanya) dengan pembayaran tepat waktu karena ada perjanjian atau kepercayaan dengan mandor-mandornya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline