Lihat ke Halaman Asli

Bujaswa Naras

Bergiat dalam aktivitas kajian kebijakan publik dan pemerintahan

Bertani Fitnah, Panen Hoaks Lebih Menjanjikan?

Diperbarui: 6 Oktober 2018   11:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: www.republika.co.id

Menjadi petani tak urung mesti berdamai dengan alam dan musim. Berhadapan dengan hama pengganggu tanaman. Dan paling menyakitkan adalah mesti berhadapan dengan kebijakan pemerintah. 

Pemerintah yang merupakan pelayanan masyarakat, termasuk petani. Sebab mulai dari Presiden Republik, pembantu Presiden yakni para menteri dan badan penyelenggara negara di gaji dari keringat petani, pedagang, kuli pacul lewat pajak atas produk dan jasa yang dikonsumsi. Termasuk pajak tanah sawah dan ladang petani.

Kedaulatan dan nasib petani atas politik pangan dizhalimi. Sebab persoalan impor beras dan pangan 2 juta ton belum tuntas. Bersilewaran dalam media tentang perjalanan kasus, perang argumen, dukung mendukung. Sedangkan siapa yang bertanggungjawab tak jelas. Tidak sanggup bersikap kasatria.

Nasib petani menjadi dagelan para pembantu Presiden, mainan para mafia impor dan politisi hama wereng yang senangnya merusak tanaman petani.

Lain soal dengan bertani fitnah, sawah ladangnya di media cetak, online, televisi. Para petani dengan senang hati membuat artikel, komentar, ulasan argumentatif dengan data dan fakta sesuai dengan kenafsuan binatang. 

Sebagian menjadi kuli tanam, kuli pacul, kuli penyiangan, kuli penebar. Dan atas jasa dan pekerjaan di gaji oleh para tengkulak yang telah mengijon para petani fitnah. Soal upahnya, bila menjadi kuli tanam hanya Rp. 50.000,-/hari. Sedangkan jadi kuli tanam fitnah apalagi yang profesional dan memiliki kelompok terorganisir 'ceritanya' ratusan juta.

Sumber: www.liputan6.com

Sedang menjadi tukang panen, mendapatkan lebih banyak. Biasanya akan ada bagi hasil dari panen petani. Atau upah dari tengkulak yang mengijon petani. Dalam kontek panen hoaks biasanya bagi hasil adalah bagian dari kelembagaan pemerintahan, mendapatkan proyek yang nilainya ratusan milyar untuk lima tahun. 

Upah langsungnya termasuk honor bekerja menjadi petani fitnah, membuat dan mengolah sawah berupa berbagai platfrom media. Facebook, Twitter, Instragram, Blog, website, televisi. 

Teringat pepatah orang tua "Bila menanam padi, rumput akan tumbuh, bila bertanam rumput jangan pernah padi akan tumbuh." Maka persoalan fitnah, penanam hoaks, penebar hoaks ibarat menanam rumput (gulma) dan berharap demokrasi dan pemilu 2019 menghasilkan politisi, Presiden dan wakilnya seperti padi bernas.

Mimpi apa sampeyan siang bolong? kata teman penggiat pertanian terpadu organik di sukabumi. Hari senin bisa bantu menyiangi gulma sawah organik di petak sana yang menjadi percontohan ngak? kalu sampeyan ngak ada pekerjaan yang mendesak, lanjutnya.

Pikiran ini masih terganggu oleh lini masa di hp android dari berbagai akun facebook. Up date persoalan penanganan gempa Lombok, Palu-Donggala dan berbagai urun rembuk relawan bekerja siang malam. Simpang siur realisasi penanganan bagi pengungsi dan korban gempa dan tsunami.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline