Lihat ke Halaman Asli

binta nuraina

mahasiswi uin

Bagaimana Jika Anak Sulit untuk Menulis?

Diperbarui: 10 Mei 2021   18:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Siapa yang suka menulis sesuatu di sini untuk mengungkapkan perasaan? Mungkin kebanyakan orang menyukainya, bahkan dulu, tapi sekarang mereka malas karena banyak yang harus dikerjakan dan tidak ada waktu untuk menulis. Untuk mengungkapkan perasaannya melalui tulisan, seseorang perlu memiliki kemampuan menulis, karena jika tidak memiliki kemampuan menulis maka ia tidak dapat mengungkapkan perasaannya melalui tulisan. Anda dapat mengajari orang lain kemampuan menulis sejak usia sangat muda, karena pada usia ini sangat mudah untuk mengajar dan membiasakan diri menulis. Mengapa? Karena mereka berada di masa keemasan, yaitu semua anak dapat dengan mudah menggenggam dan mengambil masa keemasan mereka. Dengan cara ini, mengajar anak-anak di masa depan akan memiliki konsekuensi yang mengerikan. Oleh karena itu, jika Anda mengajar mereka tetapi tidak terbiasa maka akan berdampak negatif juga bagi anak-anak tersebut, karena mereka tidak akan mengajari mereka menulis. 

Menulis merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, atau pikiran dalam bentuk simbol (huruf yang digabungkan menjadi kata kemudian dari kata ke kalimat). Kegiatan menulis mirip dengan menulis ide atau gagasan yang tersedia secara tertulis. Saat menulis, Anda harus memiliki kemampuan sebagai berikut: membedakan huruf, membedakan huruf besar dan kecil, lalu menulis dan membedakan tanda baca, seperti koma (,), titik (.), Titik kedua (:), dll. . 

Perlu waktu untuk belajar dan membiasakan diri menulis pada usia dini, karena ini merupakan langkah awal dalam membangun masa depan yang lebih baik. Namun terkadang beberapa anak sering diajari menulis, kemudian mereka terbiasa berlatih, namun masih sulit bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan menulis. Karena ada kendala yang mempengaruhi perkembangan keterampilan menulis mereka. Gangguan perkembangan dalam menulis disebut disgrafia. Disleksia sangat umum terjadi pada anak-anak yang sedang belajar di suatu institusi (sekolah). Jika disleksia merupakan penyakit yang terjadi pada anak dan berhubungan dengan kesulitan dalam membaca, menulis, atau membaca buku, maka disleksia merupakan penyakit yang terjadi pada anak. Hal ini dikarenakan anak sulit mengungkapkan perasaannya secara tertulis. Meski terdengar sederhana, menulis juga membutuhkan keterampilan motorik yang baik agar dapat dengan mudah mengolahnya kemudian menggunakan informasi yang diberikan. Jawaban mereka dalam bentuk tertulis, dan mereka dapat dengan mudah mengungkapkan perasaan, pendapat atau pemikiran mereka dalam bentuk tertulis. Namun tidak semua huruf sulit untuk dibaca dan membutuhkan waktu lama untuk mengungkapkan pemikirannya secara tertulis, dan anak yang memiliki opini tidak akan mengalami hambatan transliterasi. Oleh karena itu, Anda berada dalam fase belajar dan fase pengembangan, yang sangat membutuhkan waktu. Bergantung pada penyebabnya, ada berbagai jenis gangguan fonemik :

1. disgrafia disleksik 

Disleksia memengaruhi kemampuan anak untuk menulis kata, serta pengucapan lisan dan tertulis. 

2. disgrafia motorik 

Anak dengan diskinesia dapat mempengaruhi anak dalam menggambar atau meniru bentuk, namun anak dengan diskinesia masih pandai menulis kata atau kalimat. 

3. disgrafia spasial 

Disfungsi spasial merupakan ciri khasnya yaitu tulisan anak sulit untuk dibaca dan dipahami. Namun, anak-anak dengan guratan spasial pandai mengeja kata atau kalimat. Umumnya disleksia ditandai dengan tulisan yang sulit dibaca dan dipahami anak. Namun, ada tanda-tanda lain bahwa anak tersebut mungkin mengalami disleksia, seperti Cara anak memegang pensil dan alat tulis lainnya terlihat tidak benar, dan sulit berkonsentrasi saat menulis tidak teratur. Dalam huruf besar dan kecil, pengucapan, huruf, tanda baca dan ruang penulisan tidak beraturan, dan ketika menulis sulit untuk mengungkapkan gagasan, pelafalannya tampak berbeda. 

Kemudian mungkin juga ada gangguan pendengaran karena alasan berikut: kerusakan otak; kesalahan yang diajarkan kepada anak-anak di masa kanak-kanak; memori anak; dan persepsi anak-anak cacat. 

Jika orang tua atau pendidik menemukan gejala atau penyebab anak penderita disleksia, sebaiknya segera lakukan tindakan lain. Jika hal ini dianggap sepele, maka akan berdampak negatif bagi masa depan anak. Atau psikolog berpengalaman. Semakin cepat pendidik dan orang tua menghadapi situasi ini, semakin baik dampaknya pada kelanjutan proses belajar anak. Untuk masa depan yang lebih baik bagi orang tua, semua bisa diatasi dengan bekerja keras mengatasi gangguan tulisan tangan. Dan terus dukung anak-anak penyandang disabilitas menulis, agar mereka penuh semangat dan keinginan untuk masa depan yang lebih baik. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline