Lihat ke Halaman Asli

Purwanto (Mas Pung)

Pricipal SMA Cinta Kasih Tzu Chi (Sekolah Penggerak Angkatan II) | Nara Sumber Berbagi Praktik Baik | Writer

Pendidikan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi: Satu Kegiatan Bermakna Sistemis

Diperbarui: 11 Oktober 2019   23:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gbr: Dokpri

Seorang filsuf besar Indonesia, Dr. Driyarkara pernah menuliskan bahwa manusia memaknai dunianya. Kemampuan manusia memaknai dunia inilah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. 

Pendidikan dilaksanakan dalam rangka mengembangkan kemampuan dirinya memaknai dunianya, dan itulah yang disebut memanusiakan manusia. Memaknai sangat ditentukan oleh cara berpikir yang digunakan seseorang. 

Dalam wacana ilmiah kita mengenal cara berpikir linear dan cara berpikir sistem (systems thinking). Cara berpikir pertama sangat reduksionis, menyederhanakan sebuah jaringan kedalam sebuah bagian yang lebih kecil. Dengan maksud menjelaskan hal ini-kendati keliru- kita sering mendengar "kalau bisa disederhanakan mengapa diperumit". 

Dari proses ini terdapat bagian yang hilang (missing) sehingga sebagai keutuhan tidak bisa ditangkap. Makna yang ditangkap menjadi tidak lengkap. Tidak menutup kemungkinan hal ini berakibat pada penyimpangan perilaku atau pada persoalan yang tidak pernah selesai. Misalnya, kemacetan di Jakarta dicari solusinya melalui pengadaan bus transjakarta. 

Padahal jika dilihat dengan cara pandang sistem akan sangat berbeda solusinya. Cara berpikir sistem melihat setiap bagian selalu terkait dengan bagian lain sebagai sebuah sistem. 

Kemacetan di Jakarta bukan hanya disebabkan karena realitas sangat banyak kendaraan. Kemacetan disebabkan karena sistem transportasi umum yang kurang  baik, sistem pemilikan kendaraan yang sangat mudah, biaya yang bersentuhan dengan kendaraan sangat murah. 

Cara berpikir sistem ini melihat satu peristiwa dalam sebuah jaringan sistem secara holistic. Solusi yang diambil pun sistemis menyangkut bagian lain yang terkait.

Gbr: Dokpri

Demikian juga dengan sekolah. Setiap kegiatan baik itu di dalam kelas  maupun di luar kelas dimaknai secara sistemis. Satu kegiatan tidak hanya mempunyai satu makna melainkan menyeluruh menyangkut perkembangan keutuhan pribadi siswa yang bersangkutan. Dalam hal ini saya bisa memberikan contoh kegiatan pada Bulan Bahasa.

Setiap bulan Oktober kami melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa yang isinya penampilan kreativitas siswa dan beberapa perlombaan. Sebut salah satunya adalah news anchor. 

Siswa yang menampilkan news anchor membawakan satu topik terkait kepedulian lingkungan. Pada saat siswa menampilkan diri, ia tidak hanya menampilkan ketrampilan membawa berita, ia juga menampilkan rasa percaya diri, kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan public speaking. 

Bahkan penghayatan dia terhadap budaya humanis sekolah sangat kelihatan pada saat penampilan. Misalnya bagaimana dia berdiri didepan, apakah tegak atau tidak, kerapihan pakaian, saat ia menerima dan menyerahkan mike kepada pembawa acara. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline