Lihat ke Halaman Asli

Perspektif Rasionalisme dan Berbenah untuk "Generasi Z" Indonesia

Diperbarui: 26 Desember 2019   10:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok.istimewa via https://www.rchilli.com/

Keluarnya hasil skor PISA 2018 menjadi sebuah hal yang masih sangat memprihatinkan untuk dunia pendidikan Indonesia. PISA (Proggramme for International Students Assesment) merupakan penilaian internasional yang berfokus pada sains, membaca, dan matematika. Indonesia menduduki peringkat ke 72 dari 78 negara yang berpartisipasi, dengan skor sains 396, membaca 371, dan matematika 379. 

Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali pada anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun dan dilaksanakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). 

Dengan begitu, anak yang dijadikan sampel pada penilaian program PISA merupakan kelahiran tahun 2003 yang tergolong dalam "generasi Z". Apa itu generasi Z? Bagaimana karakteristiknya? Apa yang menjadi penyebab 'tertidurnya' generasi Z Indonesia?

Tapscoot (2008) mengatakan bahwa generasi Z merupakan sekelompok orang yang lahir pada tahun antara 1995-2010 yang biasa disebut generasi internet karena memang mereka tumbuh pada era digital dan internet merupakan bagian dari gaya hidup. 

Sedangkan menurut David Stillman  dan Jonah Stillman (2017) dalam bukunya yang berjudul Gen Z at Work: How the Next Generation is Transforming the Workplace, terdapat tujuh sifat atau karakter yang dimiliki oleh generasi Z yaitu:

  • Figital : generasi yang eksis di dua dunia, yaitu dunia nyata dan virtual. Kepribadian mereka bisa sangat berbeda saat di dunia virtual dibandingkan kehidupan nyata. Misal yang dikehidupan nyata terlihat seperti anak yang pendiam, tetapi bisa berubah menjadi anak yang banyak bicara saat di media sosial.
  • Hiperkustomisasi : anak-anak generasi Z suka sekali melakakukan modifikasi pada barang-barang yang dimilikinya, seperti di motor, laptop, ataupun bahkan pakaian yang dikenakan. Hal ini mereka lakukan untuk menunjukkan identitas diri dengan cara bebas berekspresi.
  • Realistis : generasi Z merupakan generasi yang memiliki cita-cita tinggi, karena mereka sadar hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan di era canggih seperti sekarang. Mereka dapat menjadi apapun yang mereka inginkan, namun nyatanya kebebasan bermimpi yang dimiliki juga tetap mengedepankan realitas yang mungkin terjadi. Mereka juga menyadari akan keterbatasan diri, ancaman, dan tantangan yang ada di dunia luar.
  • FOMO (Fear of Missing Out) : generasi yang sangat update terkait segala sesuatu yang terjadi disekitar mereka. Mereka sampai dapat melewatkan aktivitas makan atau bahkan rela untuk tidur di jam yang singkat, demi selalu update berita di media sosial agar tidak melewatkan segala sesuatu yang mereka anggap penting.
  • Weconomist : generasi yang terbiasa dengan konsep 'sharing economy' yaitu konsep bisnis yang dapat memberikan akses kepada sumber daya yang dimiliki orang atau perusahaan untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan bersama dengan pengguna. Contohnya seperti aplikasi semacam Grab, Uber, dan Gojek.
  • DIY (Do it Yourself) : gaya hidup khas gen Z yang tidak perlu sekolah khusus dalam membantu kehidupan sehari-hari, karena mereka punya Google dan Youtube, yang didalamnya berisi berbagai macam hal yang bisa langsung dicontoh, seperti mencari resep untuk memasak sesuatu, memperbaiki barang elektronik, bahkan sampai cara memotong rambut bisa mereka lakukan sendiri.
  • Terpacu : 72% gen Z merasa kompetitif terhadap orang yang melakukan perkerjaan yang sama, hal ini membuktikan bahwa gen Z sangat terpacu untuk menjadi yang terbaik.

Melalui keunikan generasi Z yang sudah dijabarkan diatas, dapat disimpulkan generasi ini memiliki sifat praktis, ekspresif, kreatif, kompetitif dan sangat update terhadap hal yang terjadi disekitar mereka. 

Lalu sifat realistis mereka apabila ditinjau dari segi filsafat, mengarah kepada sebuah paham yang dinamakan rasionalisme. Yaitu sebuah paham yang menyatakan bahwa pikiran merupakan sumber kebenaran (Suriasumantri, 2017). 

Artinya, jika datang sebuah pengetahuan baru kepada mereka tetapi dirasa tidak masuk akal , maka mereka pasti tidak akan mau menerima pengetahuan tersebut. Bukankah generasi Z ini sangatlah hebat? Selain kreatif, mereka juga memiliki pemikiran kritis dalam menyaring pengetahuan apa saja yang datang kepadanya.

Lalu apa yang salah selama ini dengan siswa Indonesia?  seharusnya jika umumnya anak Indonesia memang memiliki semua karakter generasi Z tersebut, pastinya skor PISA kita tidak akan masuk kedalam kategori rendah. 

Jika hal seperti ini terus berlanjut, tanpa dilakukan pembenahan. Pertanyaan terbesar yang timbul adalah, bagaimana cara anak-anak Indonesia akan bersaing sepuluh tahun mendatang nantinya dengan kompetitor seusia mereka dalam dunia nyata yang sebenarnya?

Dilansir dari pidato Mendikbud Nadiem Makarim, terdapat empat poin penting yang menjadi penyebab permasalahan ini, yaitu pertama tidak meratanya persebaran guru dan resource berkualitas, umumnya yang berkualitas berkumpul di sekolah dengan status ekonomi yang memadai. Kedua masih tingginya kejadian bullying dan perlunya pendidikan karakater bagi siswa-siswi kita. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline