Lihat ke Halaman Asli

Arnold Mamesah

TERVERIFIKASI

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Usai Episode-I Tax Amnesty

Diperbarui: 2 Oktober 2016   15:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar : http://setkab.go.id/semester-i2016-realisasi-pendapatan-negara-355-realisasi-belanja-negara-415/

Usikan Akhir September

Sinetron "Tax Amnesty" terasa sangat menegangkan jelang berakhirnya episode I pada 30 September 2016 ditandai antrian wajib pajak yang memohon pengampunan. Pada waktu yang hampir bersamaan, muncul tiga indikasi yang mengusik perhatian. Indikasi pertama datang dari Gubernur Bank Indonesia tentang ancaman aliran Hot Money; yang kedua hasil kajian World Economic Forum (WEF) tentang Peringkat Daya Saing; sedangkan yang ketiga meningkatnya Pelunasan Pinjaman dan Stagnasi Kredit.

Namun ada hal lain yang tidak berulang seperti akhir September 2015 yaitu "ketidakhadiran" lonjakan nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap Dolar Amerika (USD), yang sempat mencapai IDR 14.800 untuk USD 1. Usai September langsung disambut dengan triwulan akhir 2016 saat diperlukan upaya maksimal mencapai tingkat pertumbuhan tahunan 5,1%.

Tiga Indikasi Yang Perlu Perhatian

Gubernur Bank Indonesia mengingatkan akan banyaknya aliran Hot Money masuk Indonesia; hingga September 2016 setara Rupiah (IDR) 151 Triliun. Indikasinya dapat dilihat pada peningkatan indeks harga saham gabungan pada bursa saham Indonesia dan juga penguatan (apresiasi) nilai tukar IDR. Peningkatan aliran dana “Hotmoney” ini tidak lepas dari paket stimulus (Assets Purchase Program) European Central Bank (ECB) dan Paket Stimulus Bank of Japan; serta faktor China sejalan dengan inklusi Renminbi (CNY) masuk dalam SDR (Lihat artikel : Internasionalisasi Renminbi : Kebanggaan Semu China) dan fenomena “Capital Flight” dari China (Lihat artikel : Modal Tinggalkan China Pindah ke Indonesia).

Kaitan faktor China dengan perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Peraga-1 : Forex Reserve & Currency Index (Rupiah IDR & Renminbi CNY).

Forex Reserve and Currency Index China - Indonesia, Prepared by Arnold M

Sejak awal 2015 dengan kondisi surplus pada neraca perdagangan, terjadi perubahan cadangan devisa China dari USD 3.813 Miliar (Januari 2015) menjadi USD 3.185 Miliar (Agustus 2016), turun USD 628 Miliar (16,5%); sementara Indonesia dari USD 107,81 Miliar naik menjadi USD 113,54 Miliar pada Agustus 2016 (5,3%). Sedangkan indeks mata uang (berdasarkan Real Effective Exchange Rate, Bank for International Settlement), dalam masa yang sama, trend indeks mata uang China Renminbi (CNY) turun sedangkan IDR naik.

Perbandingan nilai terakhir dan rerata masa Januari 2015 hingga Agustus 2016 pada cadangan devisa dan indeks nilai tukar diberikan pada Peraga-2 : Forex Reserve & Currency Index China - Indonesia.

Forex and Currency Index Performance Comparison Indonesia - China, Prepared by Arnold M

Penurunan drastis cadangan devisa China (Forex Reserve) hingga hampur 8% mengindikasikan terjadi capital flight dan "intervensi" pada nilai tukar. Sementara peningkatan peningkatan cadangan devisa Indonesia sejalan dengan peningkatan aliran dana "Hot Money" yang rentan dengan sentimen serta spekulasi dan dapat dengan tiba-tiba keluar serta meninggalkan gejolak. Trend indeks IDR yang menguat hingga 2% dapat merupakan ancaman pada kinerja ekspor. Sementara penurunan indeks CNY akan mendorong ekspor produk China; atau peningkatan impor Indonesia yang akan menyebabkan defisit perdagangan Indonesia dengan China meningkat. Dampak peningkatan impor produk China pada barang konsumsi akan memberikan tekanan pada produk lokal (domestik).

Apakah akan terjadi gejolak akibat "exit"nya Hot Money ? Paket stimulus ECB dan Bank of Tokyo masih berlanjut dan belum ada tanda-tanda berakhir. Sementara suku bunga The Fed (Fed Fund Rate) setelah ditunda kenaikannya pada pertengahan September 2016, mungkin saja naik pada Desember 2016. Tetapi kenaikan ini tidak akan menimbulkan gejolak seperti halnya kenaikan sebelumnya pada pertengahan Desember 2015. Dengan demikian, aliran masuk Hot Money masih akan berlangsung dan berdampak penguatan mata uang Rupiah.

Hasil kajian WEF (World Economic Forum) yang diterbitkan 29 September 2016, menunjukkan Peringkat Daya Saing (Competitiveness Index) Indonesia turun dari 37 menjadi 41. Sebelumnya perlu dipahami bahwa ada 12 Pilar indikator yang digunakan dalam pengukuran dan penyusunan peringkat. Pilar yang dimaksud antara lain : (1) Institusi, (2) Infrastruktur,(3) Lingkungan Ekonomi Makro, (4) Kesehatan dan Pendidikan Dasar, (5) PendidikanTinggi dan Pelatihan, (6) Efisiensi Pasar Barang, (7) Efisiensi Pasar TenagaKerja, (8) Pertumbuhan Pasar Keuangan, (9) Pembangunan Teknologi, (10) UkuranPasar, (11) Tingkat Kemajuan Bisnis, dan (12) Inovasi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline