Lihat ke Halaman Asli

"Cupunya" Integritas

Diperbarui: 7 Januari 2022   22:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bagaimana Anda memandang seorang perokok? Apakah mereka keren? Atau mereka laki? Atau bagaimana Anda memandang seorang peminum? Apakah mereka keren? Pertanyaan ini tidak perlu Anda jawab kencang, cukup dalam hati saja.

Sejak saya kecil, melihat pemuda yang merokok itu kelihatannya seperti keren. Ketika saya memasuki usia remaja saya tumbuh bersama kakak laki-laki saya yang sudah mulai merokok, saya pernah mencoba merokok tapi entah kenapa rasanya tidak terlalu enak untuk membuat saya harus terus melakukannya. Dan saya tumbuh tidak menjadi perokok seperti kakak saya yang dianggap lebih laki daripada saya.

Ketika saya pindah ke SMA baru saya, saya pernah merokok hanya karena saya tidak ingin dianggap “enggak keren” seperti pengakuan dari teman perempuan saya yang mengatakan bahwa laki-laki yang merokok itu jauh lebih maskulin ketimbang yang tidak merokok.  Saya mulai menghabiskan beberapa batang rokok bersama teman saya, dengan anggapan bisa lebih kelihatan maskulin.

Tapi karena saya tinggal bersama tante saya yang disiplin waktu itu dan juga karena saya tidak memiliki uang sendiri, maka tidak memungkinkan saya untuk menjadi seorang perokok. Terlebih saya dikenal “anak baik-baik” dan “pintar” ketika dititipkan oleh orang tua saya untuk melanjutkan sekolah di kota kecil itu dan saya tidak mau merusak kepercayaan itu.

Beberapa paragraf di atas adalah pembuka tentang topik kali ini tentang Integritas dan kadar “keren-nya” di mata seseorang.

Integritas. Sebuah kata yang pastinya sudah sangat familiar, baik bagi masyarakat umum apalagi buat yang sudah menempuh pendidikan tinggi. Rasanya sudah tidak perlu dijelaskan lagi dan mungkin Anda sudah bosan kalau harus dijelaskan lagi. Tapi, tidak masalah jika kita memberikan gambaran singkat integritas sebagai gabungan dari dua kata yaitu Taat dan Jujur.

Perasaan saya agak sedikit canggung ketika saya mengikuti pelatihan di salah satu lembaga pelatihan ketika istilah “Aris Integritas” disematkan kepada saya. Waktu itu saya dan satu orang teman lainnya memiliki nama yang sama, Aris. Dan ingatan saya samar-samar tentang istilah yang teman-teman kami label-kan kepada teman saya itu, maaf jika saya salah menyebutnya “Aris Biasa”.

Ketika label itu diucapkan oleh teman-teman saya untuk memanggil, saya hanya bisa menganggguk tersenyum. Tetapi lama-kelamaan, jujur saya sangat terganggu. Bukan karena saya tidak menyukai integritas, tapi bagi saya itu semacam sindiran yang seakan mengatakan bahwa, “kamu tidak keren, terlalu idealis”.

Di waktu yang berbeda dan momen yang berbeda-beda juga, saya sering menemukan teman saya menolak untuk memakai helm, melanggar rambu lalu lintas, mencontek, pergi ketempat hiburan malam dan mabuk-mabukan, membuang sampah di sembarang tempat, bicara bahasa kasar dan banyak lainnya. Ketika saya berusaha untuk memberikan tanggapan tidak sepakat, saya selalu menemukan satu poin jawaban yang sama, “Kamu tidak keren, terlalu idealis” Atau bahasa lebih kasarnya “Tidak keren karena terlalu sok taat”. 

Agaknya ukuran “keren” itu berbanding lurus dengan kata “nakal” dan berbanding terbalik dengan kata “Baik-baik”.

Berbekalkan dari pengalaman-pengalaman itulah, sehingga ketika saya mengikuti pelatihan, pertanyaan yang tak henti-henti saya tanyakan kepada diri saya adalah seberapa berintegritaskah saya untuk disapa, Aris Integritas? Saya masuk ke dalam titik dimana saya seperti di film-film “action” sebagai “anak cupu”. Anda bisa membayangkannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline