Lihat ke Halaman Asli

Ari Indarto

TERVERIFIKASI

Guru Kolese

Pendidikan, Gaya Hidup dan Hedonisme

Diperbarui: 25 Maret 2023   06:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi pameran (sumber: Peggy und Lachmann Anke - Pixabay.com)

Hedonisme. Berbagai kasus hedonisme muncul kepermukaan setelah kasus kekerasan anak seorang pejabat pajak mengemuka. Gaya hidup pejabat-pejabat kita dikuliti di berbagai media sosial. Sebagian mengelak, sebagian menutup akses akun sosial media.  

Kegembiraan dan kebahagiaan  seorang petani akan muncul jika hamparan tanaman padi itu menghijau, menandai sebuah kesuburan sawah-sawah itu. Padi-padi mulai menguning, padi-padi berisi, tanpa hama dan serangan burung pemakan biji. Sebentar lagi, panen raya akan tiba. Petani akan merasakan kesejahteraan segera tiba. Seluruh kerja keras akan tertebus dengan hasil panen nan melimpah. 

Gambaran para petani yang bergembira dengan panen raya itu tampak kontradiktif dengan situasi di sekeliling kita saat ini. Hari-hari ini, kita disuguhi tontonan yang menyayat hati. Ada anak pejabat melakukan kekerasan. Ada istri pejabat pamer kekayaan. Ada pejabat menimbun kekayaan. Ada pejabat menarik pajak dan upeti tanpa aturan. Pejabat korupsi, pejabat terlibat dalam pencucian uang. Pejabat-pejabat kita tidak menunjukkan kualitas sebagai seorang pejabat negara. Gaya hedon tumbuh, dan melukai jutaan rakyat yang telah bersusah payah mengusahakan kebaikan untuk bangsa dan negara ini. 

Gaya hidup

Kita sedang menikmati gaya-gaya hidup pejabat yang dengan begitu bangganya memamerkan kekayaan. Tas, jam, pakaian, rumah,  mobil, sampai pesawat mewah menjadi pajangan di berbagai media sosial. Sebuah kebanggaan, prestise yang menandai status sosial tinggi yang tak terkejar oleh siapapun. Tidak ada orang lain yang sanggup seperti dia, si tuan kaya baru ini. 

Padahal tidak semua gaya hedon ini diawali dengan kerja keras. Tidak sedikit dari mereka yang memperoleh dengan korupsi, pencucian uang, pemalsuan, bahkan sampai ke narkoba. Kejahatan-kejahatan baru muncul untuk membaiat seseorang agar status sosial naik dan berpengaruh di mata publik. Seolah dengan kekayaan itu, posisi dalam politik dan bisnis akan langgeng selamanya. Sebuah cara menarik perhatian dan pengakuan, karena dia tidak mempunyai kemampuan atau  kecakapannya. Gaya hidup hedon menjadi cara pintas mempertahankan menjadi pejabat. 

Manusia-manusia hedon ini memang akan hidup dalam tumpukan kekayaan, tumpukan barang-barang mewah yang bisa terbeli tanpa keringat dan kerja keras. Maka, aktivitas setiap hari tidak akan lepas dari mengonsumsi makan dengan harga selangit, membeli barang-barang dengan harga berlapis langit, berlibur kesana-kemari tak terbatas waktu, dan terkadang muncul dalam kegiatan-kegiatan sosial imitasi. Sekadar menunjukkan aksi peduli. Pertunjukan itu tampak jelas dalam unggahan status di media-media sosial. 

Kegagalan pendidikan?

Apakah pendidikan kita telah gagal? Pendidikan seharusnya membentuk etika dan moral seseorang. Pendidikan seharusnya menumbuhkan kepedulian, kepekaan, dan kualitas diri. Pendidikan yang baik seharusnya membentuk nilai integritas, transparansi, bahkan akuntabilitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan seharusnya mencegah seseorang dari tindak tidak terpuji semacam korupsi, pencucian uang, nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, bahkan pamer kekayaan. Pendidikan seharusnya membentuk pribadi seseorang empati atas kondisi di sekitar kita. Namun, hari-hari ini, suguhan berbagai media adalah sebaliknya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline