Lihat ke Halaman Asli

Arif Muhammad

Freelancer

Masjid UIN Sunan Kalijaga, Bukan Hanya Sekedar Tempat Ibadah

Diperbarui: 21 Mei 2018   11:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Credit Image : http://laboratoriumagama.blogspot.co.id

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Kota Gudeg. UIN merupakan Universitas Islam Negeri tertua di Indonesia yang didirikan di tahun 1946. UIN sebelum tahun 2005 bernama IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, yang kemudian bertransformasi menjadi universitas dengan nama Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga kini.

Salah satu hal yang menarik dari kampus ini adalah masjidnya. Masjid UIN Sunan Kalijaga yang diresmikan sejak tahun 2009 ini mampu menampung hingga lima ribu jamaah. Keunikan dari masjid ini karena nama desainya yang tidak biasa dan menjadi salah satu ikon UIN Jogja. Ada yang cukup berbeda dari nama masjid ini, yaitu dibubuhi frase "Laboratorium Agama". Sehingga menjadi Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga. Mungkin bagi benak beberapa orang awam agak terlihat aneh.

Kok masjid dijadikan laboratorium.

Kan itu buat tempat ibadah?

Ya,memang tidak banyak masjid yang diberikan nama sebagai suatu laboratorium agama seperti yang ada di UIN Jogja. Maka tak heran bila yang belum pernah berkunjung ke sini akan merasa terheran-heran.

  

Menurut pendapat pribadi, ini erat kaitannya dengan makna dan tujuan didirikannya masjid ini. Masjid Sunan Kalijaga ini merupakan simbol dasar keilmuan yang ada di UIN Jogja, yakni keilmuan yang integratif interkonektif. Landasan epistimologis yang dijadikan fondasi dalam rangka pengembangan keilmuan di UIN itu sendiri.

Maksud dari keilmuan yang integratif dan interkonektif merupakan suatu gagasan yang menjadi buah pemikiran seorang Amin Abdullah, salah satu guru besar di UIN yang juga pernah menjabat menjadi Rektor di kampus tersebut. Gagasan ini secara sederhana dapat dijelaskan bahwasanya antara ilmu agama dan ilmu umum bukanlah suatu yang bertolak belakang, dan tidak semestinya dibenturkan, seperti yang selama ini terjadi di dunia akademik.

Seringkali terdengar beberapa asumsi bahwa Ilmu agama adalah ilmu yang tidak ada hubunganya sama sekali dengan ilmu sains. Ilmu agama yang jauh dari kata ilmiah, karena sumber ilmunya yang dari teks-teks agama, sehingga dianggap tidak objektif. Terdapat pandangan bahwa kedudukan ilmu umum (sains/teknologi & sosial humaniora) lebih 'penting' dan lebih aplikatif dibandingkan dengan ilmu agama. Ilmu umum dipandang lebih populer dan dianggap sesuai dengan perkembangan dan tantangan jaman.

Ilmu umum yang dianggap membawa perubahan jaman dirasa lebih progresif dan aplikable. Sehingga di mata para calon mahasiswa atau masyarakat secara luas, ilmu umum lebih dipandang 'seksi' dan marketable. Sebaliknya, ilmu agama dianggap sebagai disiplin ilmu yang dianggap kurang menarik dan prospek ke depan yang cenderung 'suram'.

Sejauh yang penulis tahu, Ini juga terbukti sejak UIN bertranformasi menjadi universitas (yang sebelumnya institut), peminat jurusan non agama cenderung lebih tinggi daripada peminat yang memilih jurusan-jurusan yang ada di rumpun ilmu agama.

Realitas yang demikianlah yang ingin didobrak oleh UIN Sunan Kalijaga melalui keilmuan integrasi dan interkoneksinya. Bapak Amin Abdullah telah berhasil memadukan antara kedua domain keilmuan tersebut, sehingga menjadi landasan keilmuan yang kuat. Bahwa ilmu agama dan ilmu umum memiliki keterkaitan satu sama lain, dan tak bisa dipisahkan apalagi dibenturkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline