Lihat ke Halaman Asli

Arif L Hakim

TERVERIFIKASI

digital media dan manusia

Menjelajah Sejarah dan Budaya dengan Tour de Masjid Pathok Negara

Diperbarui: 9 Juli 2016   11:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masjid Pathok Negara, masjid di bawah naungan Kraton Ngayogyakarta yang menyimpan nilai-nilai sejarah dan budaya (dok. pribadi)

Saya masih ingat, setahun yang lalu saya menyambangi beberapa masjid yang berkaitan dengan sejarah Mataram Islam untuk mengisi waktu saat berpuasa. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dan Masjid Saka Tunggal adalah dua masjid yang saya dokumentasikan kala itu.  

“Ramadan tahun ini mau diisi dengan apa? Ke mana? Dengan siapa?”, pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik benak saya. Bagaimana kalau belajar sejarah dan budaya? Bukannya di Jogja terdapat masjid-masjid yang sangat lekat dengan nuansa sejarah dan budaya?

Segera saya aktifkan panel tethering di smartphone. Koneksi jaringan 4G yang sudah menjamah rumah membuat cepat akses saat saya browsing tentang masjid-masjid bersejarah di Jogja. Dari hasil berselancar di dunia maya, muncullah sebuah istilah; Masjid Pathok Negara.

Menurut Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat 5 masjid di bawah naungan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang fungsinya bukan hanya untuk kegiatan keagamaan semata, tetapi juga difungsikan sebagai titik pertahanan. Masjid-masjid ini juga merupakan tanda batas kekuasaan Kraton, dan biasa disebut sebagai Masjid Pathok Negara.

Saya pun segera mengulik lebih jauh di mana saja letak masjid pathok negara berada. Sambil membuka google maps, saya menandai sekaligus membuat rute kelima masjid tersebut.

Rute jelajah masjid pathok negara dibuat dengan cermat menggunakan koneksi 4G (googlemaps)

  • Masjid Pathok Negara Dongkelan

Masjid pertama yang saya singgahi adalah Masjid Pathok Negara Dongkelan karena masjid ini paling dekat dengan tempat tinggal. Saya cek melalui aplikasi google maps di handphone, hanya 2,2 km atau 8 menit saja.

Konon nama daerah Dongkelan bermula dari nama Kyai Dongkol, seorang ulama yang mampu meredam konflik antara Sultan Hamengkubuwana I dan Pangeran Sambernyawa. Nama asli Kyai Dongkol sebenarnya Kyai Syihabudin, namun karena tak dijadikan patih oleh Sultan Hamengkubuwana I, dia merasa mangkel atau dongkol. Penyebutannya kemudian menjadi dongkel, dan nama daerah tempatnya tinggal dinamai dengan Dongkelan.

Masjid Pathok Negara Dongkelan yang didirikan pada 1775 adalah penghormatan terhadap Kyai Syihabudin. Bentuk masjid ini sebenarnya mirip dengan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. 

Namun pada tahun 1825 masjid yang terletak di sebelah barat perempatan Dongkelan ini dibakar oleh Belanda saat Perang Diponegoro berlangsung. Hanya umpak (batu penyangga tiang) yang tersisa kala itu. Setelah beberapa waktu perang berakhir, masjid kembali dibangun secara sederhana dengan atap dari ijuk dan mustaka dari tanah liat.

Hasil penelusuran saya di internet membawa pada publikasi Tribunnews.com yang mencatatkan bahwa pada tahun 1901 semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, masjid pathok negara dongkelan dibangun kembali seperti semula. Kemudian pada tahun 1948 dilakukan pembangunan serambi masjid. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline