Lihat ke Halaman Asli

Arif Wibowo

ASN di DJP.

Bertemu Nostra Senhora de Rosario di 1000 Guru Maluku Utara

Diperbarui: 28 Mei 2017   12:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya pernah membaca bahwa rizki itu tidak hanya berupa kenaikan gaji, kenaikan tunjangan, dapat meraih level crown, ataupun dagangan coklat susunya laris manis. Tapi bergaul dengan orang – orang muda yang berpikiran positif, punya pengalaman hebat, peduli dengan lingkungan, dengan latar belakang pendidikan, kampung halaman, ataupun pekerjaan yang beraneka ragam itu termasuk rizki yang tak ternilai. Karena tidak semua orang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan kesempatan seperti itu.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2017, pada tanggal 6 -7 Mei 2017, saya diberi kesempatan lagi oleh komunitas 1000 Guru Malut untuk ambil bagian dalam Traveling N Teaching Ke 4. Entah apa yang mendasari panitia TNT untuk kembali meloloskan saya sebagai relawan. Biarlah itu menjadi rahasia para panitia.

TNT #4 1000 Guru Malut kali ini mengambil lokasi di SD IT Sahabat Cendekia Ternate. Ada 25 relawan yang terpilih untuk mengikuti kegiatan kali ini. Mengapa hanya 25, karena disesuaikan dengan jumlah muridnya yang hanya sekitar 70 anak. Pada saat saya ngobrol dengan Ibu Kepala Sekolah, beliau bercerita bahwa sekolah ini adalah hadiah dari sang suami. “Caaadddaaasssss.....” batin saya. Ini adalah hal yang unik sekali. Kalau biasanya kaum hawa itu suka dikasih hadiah emas, sapi, mobil, lah ini dihadiahi sekolah. “Suatu saat saya mau seperti itu ah...”

Berdiri sekitar enam tahun yang lalu diatas sebidang tanah keluarga berukuran kira – kira 1000 m2. Berawal dari sebuah bangunan kelas dari kayu, hingga akhirnya bisa membangun empat lokal kelas. Memang belum selesai sepenuhnya pembangunan kelas – kelas tersebut. Dindingnya belum dihaluskan, lantainya masih semen, ukuran tiap kelas sekitar 4 X 4 m2.

Jam tujuh pagi rombongan TNT #4 1000 Guru Malut tiba di lokasi. Adik –adik kelas 1 sampai kelas 6 sudah berjejer membentuk barisan di halaman sekolah yang tidak seberapa luas. Sebuah tiang bendera dari bambu yang di cat putih berdiri tegak di halaman. Para ibu guru pengajar berdiri bergerombol, memperhatikan rombongan yang baru datang. Pagi itu kami akan mengadakan upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional. Petugas upacaranya dari kakak – kakak relawan. Mungkin bagi sebagian kakak – kakak relawan seperti nostalgia jaman mereka SD mengikuti upacara bendera.

Setelah upacara bendera selesai, dilanjutkan dengan perkenalan kakak – kakak relawan. Susana menjadi riuh gaduh dengan atraksi dari masing – masing kakak – kakak relawan. Ada yang memperkenalkan diri dengan atraktif, ada yang kocak, ada yang kalem, ada juga yang bergaya open mic. “Peeccccaaahhhhhhh kakak....”

Oleh panitia, kakak – kakak relawan diberikan waktu 2 jam untuk belajar dan bermain bersama adik – adik SD IT Sahabat Cendekia. Untuk kelas 1, mereka belajar tentang huruf – warna – angka. Untuk kelas 2, mereka belajar mengenal waktu yaitu jam – hari – bulan. Untuk kelas 3, mereka belajar mengenai panca indera. Untuk kelas 4, mereka belajar mengenai Pancasila – lambang negara – presiden dan wakil presiden. Untuk kelas 5, mereka belajar bermacam – macam profesi. Untuk kelas 6, mereka belajar tentang peta dan kebudayaan Indonesia.

Kebetulan saya, Kak Abi ( bekerja di PT. Pos dan Giro Ternate ), dan Kak Egi ( bekerja di Panwaslu Ternate ) mendapat tugas untuk belajar dan bermain bersama adik – adik kelas 6. Mereka terdiri dari lima anak perempuan dan dua anak laki –laki. Sebelum hari H ini kita bertiga telah bersepakat untuk membagi sesi menjadi 4 sesi. Sesi pertama di handle oleh Kak Egi mengajak adik – adik bermain dan belajar mengenai kebudayaan. Kak Egi membagikan gambar – gambar makanan, rumah adat, dan tarian kepada masing – masing adik – adik. Adik – adik diminta menyebutkan asal makanan, rumah adat, maupun tarian yang ada di gambar tersebut. Yang menarik ketika salah seorang murid, Zulfikar, mengajarkan tarian Soya – Soya kepada kita, dengan iringan meja yang dipukul secara berirama dari adik – adik perempuan. Sayapun larut dalam tarian tersebut.

Sesi kedua yaitu menyusun puzzle peta Indonesia. Kak Abi telah mempersipakan puzzle tersebut. Adik –adik kelas 6 dibagi menjadu dua kubu, kubu Dang dan kubu Dut. Kedua kubu diadu dalam hal menyusun puzzle tersebut dengan durasi waktu seuluh menit. Adik – adik terlihat begitu menikmati permainan ini. Dengan tekun mereka menyusun satu – persatu potongan gambar peta tersebut. Sepuluh menit lewat sudah, tapi belum ada yang selesai menyusun puzzle itu.

Sesi ketiga adalah review atas apa yang telah dipelajari. Untuk merangsang daya kompetisi adik – adik, kita memberikan sedikit hadiah bagi yang bisa menjawab dengan tepat. Bahagia sekali melihat mereka begitu antusias menjawab setiap pertanyaan yang kami berikan. Meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana tapi semangat mereka kerasa banget.

Sesi ke empat adalah pengenalan profesi. Masing – masing dari kita memperkenalkan diri kita. Mulai dari tempat asal kita, pekerjaan kita, tempat kerja kita, bagaimana sampai kita bisa bekerja sekarang ini, dan sebagainya. Terakhir adalah menempelkan cita – cita mereka yang telah dituliskan di stiker daun pada sebuah gambar pohon impian. Ada yang bercita – cita menjadi polisi, polwan, chef, guru, dokter. Ada seorang adik perempuan yang menuliskan cita – citanya adalah dokter, chef, desainer, artis, guru. “Kommmporrr ggaasss kakkkaaakkk.....”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline