Lihat ke Halaman Asli

Ari Budiyanti

TERVERIFIKASI

Lehrerin

Sejuta Kebaikan yang Diawali dengan Berkebun Tomat

Diperbarui: 23 Juli 2021   15:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Panen buah tomat yang pertama (dokpri adik penulis)

Saya ingin bercerita tentang pengalaman berkebun selama WFH (Work From Home). Saya memang memutuskan berkebun sayuran untuk mengisi waktu luang. Bibit tanaman sayur saya beli dari toko adik saya. Namun khusus tanaman tomat, tidak ada bibitnya di sana. Sedih pastilah saya.

Saya suka sekali menanam tomat karena mudah tumbuh dan pemeliharaannya pun tidak rumit. Saya juga berpikir sederhana, saya berkebun sebagai kegemaran. Kalau menghasilkan sayuran dan bisa memanfaatkannya pastilah lebih bahagia.

Dokpri tanaman tomat di polybag koleksi penulis

Akhirnya saya memutuskan mengambil biji tomat dari tomat sayur yang ada di dalam kulkas rumah. Menurut info dari ahli pertanian, Pak Felix Tani, itu memang bukan bibit dari sumber yang baik. Namun saat itu tanaman tomat saya sudah tumbuh besar dan tinggi.

Tanaman tomat yang tumbuh koleksi penulis (dokpri)

Tanaman tersebut memang tidak tumbuh maksimal. Ada hama mati pucuk yang menyerang. Setiap kali bunga layu dan gugur. Buah tomat pun tiada. Saya sedih sekali sebenarnya. Namun saya merasa sayang saja kalau harus memusnahkan tanaman tomat saya.

Dokpri koleksi tanaman romat penulis

Maka saya membiarkannya tumbuh. Kutu putih pun ikut menggerogoti kesehatan tanaman tomat saya. Ada beberapa tanaman yang masih berhasil bertahan dalam kondisi tidak menyenangkan.

Tanaman tomat mulai berbuah (dokpri)

Denga telaten saya buang dedaunan yang terserang kutu putih. Saya juga sambil berdoa agar tomat-tomat itu ada yang mau berbuah. Jadi tidak hanya berhenti pada bunga saja lalu layu.

Dokpri tanaman tomat penulis akhirnya berbuah

Tanaman-tanaman tomat ini seperti mendengar permintaan saya. Mereka seolah membalas percakapan saya dengan berusaha tumbuh menghasilkan buah. Memang tidak banyak buah yang dihasilkan namun entah mengapa saya bahagia sekali.

Tomat makin membesar dan kuat. (Dokpri)

Bunga-bunga mulai menunjukkan buah kecil-kecil menghijau indah. Dari kecil hingga akhirnya besar. Tidak gugur seperti bunga-bunga tomat sebelumnya. Bahkan mereka terus tumbuh sampai berwarna orannye pertanda sudah masak dan siap dipanen.

Dokpri adik penulis pad apanen tomat pertama

Saya aku ada kesedihan karena tidak bisa ikut menikmati tkmat segar dari kebun sendiri. Saya harus kembali ke luar kota karena urusan pekerjaan. Saya tinggal jauh dari rumah. Namun tomat-tomat itu ternyata tetap hidup dengan baik. Ibu dan adik yang menikmati kesegaean buah tomat.

Panen tomat yang pertama (Dokpri adik penulis)


Bahkan kemaren saya dikirimi gambar buah tomat panen yang kedua. Panen, jangan bayangkan jumlah berlimpah. Paling hanya 3 buah yang matang pada pemetikan kedua. Cukup untuk dikonsumsi pribadi menjadi camilan buah yang sehat.

Tomat yang siap dipanen kedua kali (dokpri adik penulis)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline