Lihat ke Halaman Asli

Percintaan Seorang Ratu, Balqis

Diperbarui: 24 Juni 2015   02:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Rasanya sudah tak sabar, ingin segera ia bisa menemuinya. Sebagai seorang Ratu, singgasananya dibuat goyah karena seorang Raja juga seorang Rasul yang berita beritanya mampu menembus dinding pembicaraan istana. Betapa Nabi itu demikian mulia di matanya, begitu bijaksana dan agung, membakar hasratnya makin berkobar. Tetapi iasadar, betapa tidak mudah mengambil keputusan ini. Sepanjang 2100 kilometer, bukan jarak yang pendek dan sebentar untuk ditempuh. Ia harus menghabiskan waktu selama 6 bulan, mengarungi Laut Merah belum lagi menyusuri sepanjang Hijaz tanah Arab yang panjang dan membakar, sebelum memasuki wilayah Yordan untuk tiba di tanah Yerusalem. Belum pernah dalam sejarah sebuah riwayat seseorang, apalagi seorang ratu melakukan perjalanan dengan misi damai begitu jauh. Tak pernah ia mendengar para Raja atau para Nabi melakukan pekerjaan senekat itu.

Tamrin, orang kepercayaannya, telah memberikan laporan terakhir menyangkut persiapan keberangkatan. Rombongan telah menyiapkan 73 buah kapal, 787 ekor unta, bagal dan keledai untuk bekal di perjalanan, dengan mengangkut emas, perak, safir dan batu mulia lainnya, kayu ebony, rempah-rempah dan mebeler untuk dihadiahkan kepada sang raja.

Ia telah menyatakan secara resmi sebelum berangkat, dan memperoleh tanggapan tulus, rakyat memahaminya, tak ingin rasanya ia melupakan. “Kerajaan tidak bisa berdiri sendiri tanpa kebijaksanaan, harta kekayaan tak bisa dipertahankan, semua tidak ada artinya tanpa kebijaksanaan, tetapi barang siapa memperolehnya, kebijaksanaan itu melindungi dirinya, tempat kita mencari perlindungan, memberikan kekuasaan dan kekuatan. Marilah kita mencari, dan menemukannya, menyintai, dan kita akan menerima dan berpaling ke arahnya dan untuk tidak melupakannya.” Sebagai balasan, ia mendengar sendiri maklumat para bangsawan, budak-budak serta dayang-dayang serta penasehat-penasehatnya dihadapannya, “O, Bunda Maria, seperti kebijaksanaan yang tak kurang ada padamu, dan itu adalah buat dirimu memperhatikan kebijaksanaan. Dan untuk kami, jika engkau pergi, kita akan pergi dengan engkau, dan jika engkau duduk dibawah kita akan duduk bersama engkau. Kematian kita adalah kematianmu, hidup kita adalah hidup denganmu.

Tidak ada yang dirisaukan lagi. Meskipun ia seorang wanita, ia adalah seorang ratu, kehadirannya tidak semata pribadi seorang wanita yang datang mengunjungi seorang laki-laki, melainkan dirinya mewakili bangsanya. Hasratnya makin tak terbendung, ada yang terus bergolak dalam jantungnya. Semua yang didengar selama ini bahkan menambah hasratnya tak terbendung. Benarkah dia, seorang raja yang begitu bijaksana, segala keputusan yang dia ambil membuat rakyatnya taat melaksanakannya ? Makin membuat negerinya tenang dan tentram, mendirikan pengadilan yang adil, berbicara di depan rakyat dengan kekuatan otoritas dan wibawa. Raja muda dari tanah Israel dan belum mengambil istri itu dikabarkan seorang lelaki yang cakap, memiliki suara lembut meluncur dari bibirnya, acap kali perintahnya cukup dengan isyarat tubuhnya, tingkah lakunya mencerminkan seorang yang bajik.

Kakinya melangkah dengan agak bergetar. Hampir saja air matanya jatuh, negerinya telah lepas dari bayangannya. Dalam perjalanan, ia merenung. Mungkin ia akan menangis didepannya, atau terhenyak berlama-lama, atau berdiri terpaku tanpa daya. Yang pasti ia menyadari, sebagai ratu mesti tampil didepan siapa pun sebagai seorang kepala pemerintahan, apalagi di depan sesama raja. Tetapi pertemuan kali ini, yang akan segera dialami, bukan semata urusan kenegaraan. Kepentingan pribadinya menohok–nohok untuk didahulukan. Bagaimanapun ia tetap pada pendiriannya, bahwa kepergian kali ini, satu-satunya adalah menimba kebijaksanaan. Hal itu yang lebih mengundang hasratnya selama ini.

Ia adalah Ratu Sheba, pemimpin bangsa Ethiopia yang ingin memiliki kebijaksanaan seperti itu, untuk diberikan kepada rakyatnya, diberikan kepada bangsanya, agar bangsanya dalam keadaan damai dan sejahtera. Ia telah sampai pada kesimpulan, menghormati kebijaksanaan adalah menghormati orang bijak, penuh kasih kebijaksanaan adalah penuh kasih pada orang bijak. Ia ingin seperti itu. Hal itu yang paling kuat, bahkan hingga tidak memikirkan dirinya sendiri, selama 6 tahun memerintah tanpa seorang pendamping disisinya.

Dingin angin malam yang menggigit, badai gurun yang kering, terik siang yang menyengat, cukup sudah menghantarnya. Ia telah tiba kini, istana raja telah mengepungnya. Raja tentu benar benar ramah, dia pasti berbaik hati, nampak dari persembahan diperuntukkan kepadanya. Ia ditempatkan di sebuah apartemen mewah disamping istana, hidangan buah-buahan, kain sutra linen, permadani, 11 tukang cuci setiap hari, 350 orang pelayan, 45 sak tepung, 10 ekor sapi, 5 ekor kerbau, 50 ekor domba, kambing, rusa, gazelle dan ayam, lalu madu dan anggur, belalang goreng, permen kaya, dan 25 penyanyi laki-laki dan perempuan. Hadiah-hadiah bagi sang raja yang dibawanya pun telah diserahkan.

Kini laki laki itu berada dihadapannya, menebarkan pengaruh wibawa, ditatapnya dengan tegar, inikah seorang raja dan seorang Nabi. Dialah Sulaiman yang beritanya tak pernah bosan hingga di telinganya, hingga ke negerinya yang berjarak 1400 mil dari Yerusalem. Sulaiman dengan ramah menunjukkan kebun dan taman-taman bunga di istana dengan dilengkapi air mancur dan kolam ikan. Ratu Sheba banyak menemukan bunga langka, kagum dengan kemegahan candi candi dan arsitektur bangunan pemerintahan Sulaiman. Singgasana yang terbuat dari kayu cendana dengan tangga bertingkat tujuh dengan berbalut emas dan batu mulia. Tampak di bagian istana sebuah baskom sangat besar terbuat dari kuningan, ditarik 12 ekor lembu, melambangkan duabelas bulan dalam setahun. Sulaiman nyata seorang ahli astronomi, Sheba diajarkan apa yang disebut dengan Batas Solomon, sebuah teori penanggalan yang menetapkan adanya penambahan satu bulan dalam sembilas belas tahun.

Semua tidak salah dengan yang didengarnya selama ini, orang yang dia kagumi telah berada dihadapannya, cakap dan tampan. Semuanya menjadi pantas, bahkan lebih dari beritanya. Tetapi masih saja belum cukup. Perjalanan 6 bulan bukan waktu yang sebentar, ia tak mau menyiakan kesempatan ini. Ia harus mencapai tujuan. Ia harus pastikan bahwa Sulaiman yang ada dihadapannya saat ini benar-benar seorang yang bisa ia harapkan.

Ia telah mengutarakan maksud kedatangannya kepada raja Solomon itu, sambil melemparkan puji-pujian, bagaimana sang raja dan seorang Nabi begitu bijaksana. Tidak aneh bagi Nabi Sulaiman mendengarnya, selain bisa membalas dengan rendah hati, bahwa semua itu datang dari Allah. Ratu Sheba mulai terkesan dan mulai mengenal Allah Israel. Allah, tuhannya orang Israel, bukan seperti tuhannya yang setiap pagi muncul dari timur menerangi bumi. Perbedaan itu menjadi bagian yang menarik, dari sekian banyak pandangan-pandangan sang Nabi yang ingin ia ketahui.

Sejak hari pertama bahkan sebelum ia meminta, Sulaiman telah mengajaknya berdialog dan berdiskusi; membawanya berjalan-jalan, melihat sudut-sudut Yerusalem. Perihal perihal yang besar tentang politik dan pemerintahan, kehidupan, tentang makna hidup, pengertian damai dan perang, hubungan antara roh dan tubuh, rahasia kematian dan keabadian, seksualitas, perbedaan pria dan wanita, sistem ekonomi, mengenai pasang surutnya bulan, Asma dan Sifat-sifat Allah. Nabi Sulaiman sepakat untuk membahas semua itu, bahkan menunjukkan sikap yang menyenangkan, dengan kepiawaian diplomasi yang tinggi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline