Lihat ke Halaman Asli

[Novel] Ismail , "The Forgotten Arab" Bagian Dua

Diperbarui: 24 April 2017   15:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Sampai di Syeikh Ridwan

Hidangan dari Syeikh Ridwan ini lezat sekali karena terbuat dari daging kambing. Hidangannya adalah kari kambing. Rasanya lezat sekali karena kami sudah beberapa hari makan seadanya saja. Aku merasa seperti di rumah sendiri makan di tempat yang luas tersebut. Tuan rumah beserta para pegawainya juga makan di ruangan yang luas.

Syeikh Ridwan adalah langganan kami dan ia selalu membayar kami dengan tepat tanpa ada pengurangan. Ia juga adalah pedagang yang kaya sekali dan  mempunyai tanah yang luas sekali.

Mahmud menyendok nasi kembali.  Ia memang makannya banyak tapi ia sangat rajin berolahraga dan selalu melatih keterampilan bela dirinya. Aku selalu mencoba mengikuti ajarannya untuk bermain silat. Sayang saja aku selalu tidak kuat karena fisikku cepat cape. Mungkin aku kurang berkemauan kerasa sama halnya dengan Mahmud.

Tubuhnya tampak lebih sehat dari kami dengan stamina yang kuat. Aku pernah mendapatkan pelatihan seperti mengangkat air dari mata air sampai tempat berteduh ternak.  Ia menyuruh setidaknya untuk berlatih tujuh kali untuk mengangkat air aku mencoba baru tiga kali saja sudah capek dan aku memakai bantuan kuda untuk meneruskan pekerjaan.

Kuda pilihan 12 Jumadil Tsani

“Tidak Ada Pasukan Berkuda”

Aku sudah tahu bahwa kuda adalah mahluk yang paling bersahabat. Sayang sekali aku jarang menemuinya di Galipoli. Mayoritas pasukan Turki yang terjun adalah pasukan Infantri hanya perwira saja yang menggunakan kuda untuk inspeksi atau pemeriksaan. Padahal saya pernah mengajukan diri sebulan yang lalu sebagai sukarelawan berkuda seperti orang-orang pasukan kavaleri namun setelah medan yang akan ditempati adalah mendatar dan dengan parit tidak memungkinkan pasukan kavaleri di tempat ini. Pasukan kavaleri tidak bisa beroperasi cepat karena banyaknya lubang  serta halangan berupa parit musuh.

Seandainya kudaku yang bernama Ahmar pasti ia bisa kupakai dalam berperang tetapi siapa yang membawa Ahmar ke Galipoli. Pasti ongkosnya mahal. Pemerintah Kolonial Belanda pasti akan melarangnya untuk apa kuda biasa dikirim ke Arabia padahal Arabia memiliki kuda-kuda yang jauh lebih baik dari kuda Inonesia. Terlebih kuda tersebut akan  dijadikan untuk berjihad melawan Inggirs. Mereka atau Belanda takut dengan kebangkitan jihad di negeri Hindia Belanda. Mereka memantau para jemaah haji yang pergi ke Makkah dan mereka akan menjaga agar tidak membawa bibit perlawanan. Sebab ketika sudah berhaji, para pejuang membangkitkan perlawanan untk membebaskan diri dari imprealisme.

Balik lagi ke kuda. Aku memandangi kuda Jenderal Otto Liman von Sanders atau Sanders Pasha. Ia seorang Jenderal Jerman yang diberi tugas sebagai panglima pasukan Turki di Galipolli.  Masya Allah, kudanya yang bongsor sekali berwarna coklat dan dengan surai hitam. Ia gagah dan mengawasi seluruh Angkatan perang Turki yang sedang berjaga dan menghadap ke depan. Beberapa perwira Turki berada di sampingnya untuk menerima arahan dari orang tersebut. Melihat kuda tersebut membuatku  teringat dengan kudaku. Aku selalu merindukannya dan kapan lagi aku akan kembali untuk menunggangi tunggangan yang gagah tersebut.

Ia selalu menemaniku dalam perjalanan menuju tempat saya untuk mengantarkan hewan ternak seperti Kambing, domba, sapi dan kerbau ke Minangkabau, Mandailing hingga Medan. Ia bisa berlari cepat. Aku selalu menang mengalahkan kuda saudaraku sendiri Ibrahim karena kudanya lebih lambat meski dari turunan yang sama. Bapak dan ibunya sama hanya saja kudaku lebih muda daripada Kuda Ibrahim. Kudaku  berwarna putih dengan campuran warna coklat merah yang berasal dari ibunya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline