Lihat ke Halaman Asli

Ananda Tias Putri

Mahasiswa / Ilmu Komunikasi / Universitas Nasional

Ciri Khas Tradisi Tabuik dalam Kebudayaan Minangkabau

Diperbarui: 26 Juli 2022   12:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Indonesia Lestari. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Indonesia adalah negara yang sangat terkenal dengan keragaman budayanya dan lebih dari 500 suku bangsa, dimana keragaman budaya mencerminkan status negara Indonesia yang luar biasa. 

Dapat dilihat bahwa kepercayaan masyarakat  merupakan  akar dalam tumbuh dan berkembangnya kebudayaan nasional di Indonesia. Tanpa kepercayaan masyarakat, tidak akan ada ritual, kesenian, dan bahasa berbeda yang masih kuat dipraktikkan oleh masyarakat. 

Budaya adalah cara hidup manusia yang berkembang  bersama  oleh nenek moyang kita dan diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi, manusia dan budaya tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling terkait. Dimana, keyakinan adalah nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat sebagai acuan dan orientasi dalam standar kehidupan masyarakat.  

Provinsi Sumatera Barat merupakan provinsi dengan budaya yang unik dan terkenal dengan budaya masyarakat Minangkabau. Ketika berbicara tentang masyarakat Minangkabau, mereka juga menemukan kelompok etnis yang latar belakang sejarah, adat istiadat, budaya, tradisi, agama, seni, pertunjukan, kepercayaan dan semua aspek kehidupan yang hidup di masyarakat (Nelri, 2018).  

Upacara Tabuik, salah satu warisan budaya Minangkabau, adalah kegiatan upacara yang  berkembang di Pariaman dan berasal dari abad ke-19 M, dikaitkan dengan kelompok pertama orang partisan Syiah dari Indonesia. . 

Sedemikian rupa sehingga pada tahun 1910 dibuat kesepakatan di antara para pemimpin suku tentang tradisi ini sehingga akan dikeluarkan kesepakatan untuk mengadakan upacara ini dengan adat dan budaya yang lazim di Minangkabau. 

Tabuik sendiri berasal dari kata Arab "tabu" yang berarti kotak kayu. Tabut (peti mati kayu) dikenal sebagai tempat potongan tubuh Husain dibawa  ke surga dari Buraq, jadi untuk cerita ini dipalsukan bahwa buraq membawa peti kayu di punggungnya. Tabuik memiliki 2 jenis diantaranya 2 jenis yaitu Tabuik Pasa dan Subarang.

Perayaan festival Tabuik  pertama dari jenis Pasa, berlangsung di sekitar daerah selatan  sungai yang membelah kota, sampai ke tepi Gondariah. Sedangkan Tabuik Subarang terletak di sebelah utara Sunagi, bernama Kampung Jawa.  Upacara Tabuik di Sumatera Barat yang dikenal dengan Festival Tabuik Pariaman, merupakan  tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Pariaman. 

Festival ini diadakan setiap tahun dari tanggal 1 hingga 10 Muharram untuk mengenang cucu Nabi Muhammad yang terbunuh, yaitu Husein bin Abi Thalib pada Pertempuran Padang Karbala yang bertepatan dengan hari 10 Oktober 61 Hijriyah  dengan 10 Oktober 680. setelah JC).

 Tabuik ini untuk memperingati perjuangan  Husein  membela agama. Upacara Tabuik ini terkenal dengan ritualnya dengan prosesi tabuik ke laut. Perayaan ini merupakan bukti yang dikemukakan dalam "teori Persia"  Amir Husen dan Hoesein Djajadinigrat, yang menurutnya Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi oleh orang Persia Syiah. 

Namun teori ini memiliki kelemahan,  pada saat itu Iran bukanlah pusat penyebaran Islam.  Upacara Tabuik di Pariaman sebenarnya dimulai pada tanggal 1 Muharram yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam, namun mencapai puncaknya pada tanggal 10 Muharram.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline