Lihat ke Halaman Asli

Tentang Baju

Diperbarui: 3 Juli 2017   13:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

koleksi dan design pribadi

Puutaro memang orang yang tidak perduli pada mode. Dia terbiasa berpakaian sekenanya saja dengan mengabaikan segala dalil mode. Dia bisa seenaknya memakai celana pendek bututnya dan bersandal walaupun suhu kota Tokyo sudah berada di bawah 10 derajat celcius dimana sebagian besar orang sudah mulai menyalakan heater nya di rumah.

Jum'at malam hari ini dia merebahkan dirinya di couch yang ditaruh dekat jendela beranda apartemennya yang sempit di Komae, daerah bedtown pinggiran Tokyo. Dengan pendapatannya sekarang dia tak sanggup untuk membayar apartemen di tengah kota. Hari ini dia bisa pulang lebih cepat dari biasanya, walaupun "cepat" disini bukan berarti dia bisa beranjak dari kantor saat matahari baru saja terbenam. Jarum jam sudah menunjuk ke pukul 9 malam saat dia tiba di kamarnya. Keberuntungan pulang cepat ada padanya karena laporan akhir untuk project terbaru yang ditanganinya sebagai freelance programmer bisa diselesaikan lebih awal.

Sambil menenggak kopi pahit yang dibelinya di doutor sepulang kerja , dia mengambil koran asahi edisi pagi yang belum sempat dibacanya. Matanya berlompatan dan men-scan dengan cepat dari satu halaman ke halaman lain. Sepertinya dia tidak sedang mencari suatu topik atau berita tertentu. Memang dia agak segan membaca koran hari ini karena sebetulnya dia capek setelah seminggu bekerja dan agak sedikit mengantuk. Kopi American yang diminumnya pun kelihatannya tidak bisa mengusir rasa kantuknya. Lagipula, kebiasaannya adalah hanya membaca berita headline di halaman pertama lalu dengan cepat membaca ke halaman terakhir. Di halaman terakhir ini dia agak telaten membacanya, karena disini ada jadwal acara televisi harian. Dia berharap siapa tahu ada acara yang menghadirkan artis puja'an nya Yonekura Ryoko di lajur-lajur acara dari beberapa stasiun televisi yang tertera disitu.

Tak lama kemudian, dia mencampakkan korannya dengan cepat setelah mengetahui bahwa tidak ada acara televisi yang menarik malam ini. Ditambah berita-berita headline koran yang dia pikir memang agak monoton. Dia juga sedikit muak karena banyaknya berita yang memuat tentang pembunuhan dan pertikaian , yang sedikit bayak berhubungan dengan keyakinan yang dianut akhir-akhir ini.

Sebagai orang Jepang yang dilahirkan dan mendapat pendirikan di Jepang, selama ini dia tidak terlalu peduli dengan apa yang diyakininya.  Walaupun orang tuanya yang menganut Joudo Shinshu selalu mengajaknya dikala ada ritual-ritual keagamaan, namun dia selalu mengelak dengan 1001 macam alasan.

Walaupun dia malas ikut ritual keagamaan, namun dia percaya tuhan itu ada dan berada di mana-mana. Walaupun rasa keingintahuan dia akan penjelasan yang lebih luas dan dalam mengenai apa yang dianutnya (setidaknya apa yang dianut oleh orang tuanya) kadang muncul, namun dia juga tidak mau bersusah payah untuk mencarinya penjelasan itu sendiri, misalnya mengunjungi kuil dan melalukan tanya jawab dengan obousan. Ah, seandainya di sekolah ada pelajaran agama, pikirnya. Tentunya mau tidak mau dia bisa, paling tidak mengetahui lebih luas lagi tentang keyakinannya.

Dengan pengetahuan tentang apa yang diyakininya yang hanya secuil itu, dia juga sadar, bahwa tentunya mustahil untuk bisa memahami mengapa headline di koran-koran belakangan ini selalu ada saja yang memberitakan orang yang menyakiti orang lain karena keyakinan. Hal inilah yang menjadi teka-teki besar baginya.

Puutaro memejamkan mata dan berusaha keras untuk mengalirkan lebih banyak oksigen ke otaknya, karena dia setidaknya ingin sedikit memahami dan memecahkan teka-teki itu. Dia berpendapat bahwa keyakinan, alias hubungan manusia dengan Tuhannya, hakikatnya adalah hubungan secara vertikal. Dan hubungan vertikal itu seharusnya merupakan hubungan pribadi yang tentunya tertutup (private), antara suatu pribadi dan penguasa jagad yang diatas dan bukan untuk wacana publik. Apa yang dia komunikasikan dan yakini secara vertikal itu, merupakan haknya dan kewajiban dia kelak harus mempertanggungjawabkan sendiri mengenai hubungannya itu, apa yang selama ini dia telah perbuat. Tidak ada peluang dan tidak ada hak selain diri orang itu sendiri yang bisa masuk diantara hubungan yang vertikal dan sakral itu.

Hubungan sosial antar manusia di dalam masyarakat adalah hubungan yang horizontal. Tentunya hubungan ini bersifat terbuka, dan sangat duniawi. Karena di dunia ini, susah untuk mencapai hakikat dari hubungan horizontal ini jika masing-masing bersifat tertutup. Jika masing-masing orang tertutup, maka kadang orang akan segan membuka akses hubungan horizontal .

Hubungan horizontal dan vertikal ini arahnya berbeda (selain sifatnya juga berbeda antara yang duniawi dan sakral) serta tegak lurus satu sama lain, dan seharusnya tidak mungkin bersinggungan. 

Dia masih ingat pelajaran fisika yang digemarinya ketika duduk di bangku SMA dulu mengajarkan kaidah tangan kanan(kiri) Fleming dimana  bila ada arus listrik dan medan magnet bekerja, maka hasilnya ada pergerakan tenaga yang tegak lurus dari arah arus listrik dan medan magnet tadi. Arahnya tegak lurus, tidak bisa bersimpangan. Ini sudah sah terbukti dalam science. Sudah sah karena telah terbukti dari hasil usaha para ilmuwan yang bersusah payah melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline