Lihat ke Halaman Asli

Andi Alfitra Putra Fadila

Statistisi Plat Merah

Sejumlah Poin tentang Mengapa Survei Pelecehan Publik KRPA Perlu Dikaji Kembali

Diperbarui: 11 Juli 2020   10:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pada tahun 2019 lalu, Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menerbitkan hasil Survei Pelecehan Publik. Survei ini dilaksanakan pada saat Kampanye 16 hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November-10 Desember) tahun 2018 oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) yang terdiri dari Komunitas Hollaback Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JDFG), dan Change.org.

Dari hasil survei itu, disimpulkan bahwa "tak ada hubungan antara pakaian yang dikenakan korban dengan pelecehan seksual", sebagaimana disampaikan oleh Rika Rosvianti, pendiri komunitas perEMPUan, dan dikutip oleh news.detik.com dalam artikelnya yang berjudul 'Hasil lengkap Survei KRPA soal relasi Pelecehan Seksual dengan Pakaian'. Selain artikel itu, masih banyak artikel lain mengenai Survei Pelecehan Publik yang dapat diakses dengan mudah lewat perambah daring dengan mencari kata kunci yang sama.

Sampai detik ini, data ini terus digunakan sebagai bahan pembicaraan masyarakat yang meresponnya dengan sikap pro dan kontra. Di pihak 'pro', data ini digunakan sebagai rujukan utama untuk mengatakan bahwa faktor utama pelecehan seksual datang dari dalam diri pelaku, bukan dari pakaian korban. Di sisi lain, pihak 'kontra' mengatakan bahwa hasil survei ini tidak relevan dan tidak mencerminkan fakta yang terjadi. Kedua pihak sama-sama mengklaim pernyataan merekalah yang paling tepat. Namun demikian, sebenarnya bagaimana jika penelitian hasil penelitian ini dikritik secara ilmiah? Saya iseng melakukan hal ini dan menemukan beberapa hal.

1. Seperti apa metode yang digunakan?

Penelitian ini menggunakan metode penelitian non probability, yang artinya tidak didasarkan atas penarikan sampel secara acak sebab dilakukan dengan menarik sampel melalui internet, mailing list, dan juga turut disebar lewat sosial media. Metode ini dikenal dengan metode Convenience Sampling.

Konsekuensi dari penggunaan metode ini adalah tidak memungkinkannya dilakukan inferensia dari hasil penelitian yang didapat. Maknanya, hasil penelitian belum dapat dijadikan dasar penggambaran populasi secara keseluruhan, dalam hal ini adalah penduduk Indonesia. Hasil dari metode penelitian non probability adalah berupa produk statistik deskriptif yang hanya bisa menjelaskan keadaan sampel yang diambil, yang dalam kasus ini adalah 32.341 orang yang menjadi responden, bukan 266,91 juta jiwa penduduk indonesia di tahun 2019 (berdasarkan proyeksi penduduk Survei Antar Sensus (SUPAS) 2015).

Kalaupun dikatakan bahwa respon yang didapat penelitian ini mendekati hasil yang didapat jika dilakukan dengan probability method,  menurut saya,  tetap saja masih ada salah kaprah dari cara penarikan kesimpulan dalam penelitian ini. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas di dalam poin selanjutnya.

Catatan kaki: saya menuliskan responden total 32.341, bukannya 62.224 karena hanya 32.341 responden yang ditanyai mengenai jenis pakaian. 32.341 responden ini adalah responden yang pernah mengalami pelecehan seksual dari total 62.244 responden.

2. Apakah benar tak ada hubungan antara pakaian yang dikenakan korban terhadap pelecehan seksual?

Rika Rosvianti selaku founder perEMPUan dalam berita ini mengatakan bahwa kesimpulan dari penelitian ini adalah tak ada hubungan antara jenis pakaian yang dikenakan korban terhadap pelecehan seksual yang terjadi. Dasar dari pernyataan ini adalah hasil yang menunjukkan bahwa 17,47% korban pelecehan menggunakan kategori pakaian rok atau celana panjang ketika kasus pelecehan terjadi--angka ini merupakan yang tertinggi di banding angka di kategori lainnya.

Hal lain, Rika mengatakan sekitar 17 persen dari korban mengenakan hijab pendek atau hijab panjang saat kejadian berlangsung. Kedua jenis pakaian tersebut merupakan jenis pakaian yang dianggap tertutup, sehingga ditarik kesimpulan bahwa jenis pakaian tidak memiliki pengaruh terhadap resiko seseorang menjadi korban pelecehan seksual.

Tapi, apakah proses penarikan kesimpulan ini sudah dapat diterima? 

Jawabannya, pada kenyataannya, proporsi kategori bukanlah statistik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk mengatakan apakah suatu variabel memiliki hubungan terhadap variabel lainnya atau tidak. Data proporsi kategori harus diolah terlebih dahulu.

Dalam ilmu statistika, ada dua cara yang lazim digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya: analisis korelasi dan analisis regresi. Korelasi, adalah jenis analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel satu dengan variabel lain, tanpa memperhatikan sebab-akibat. Regresi sendiri adalah jenis analisis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline