Lihat ke Halaman Asli

Alfina Asha

Mahasiswa

Animal Farm, Alegori Politik Lewat Penokohan Binatang

Diperbarui: 4 Januari 2022   07:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Animal Farm oleh George Orwell (dokpri)

"Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya."

Animal Farm berkisah tentang kehidupan para binatang di peternakan yang memiliki keinginan untuk bebas dari tirani manusia. Binatang-binatang ini --babi, anjing, kuda, keledai, ayam, tikus, kambing, biri-biri, gagak-- ingin menciptakan dunia di mana mereka-lah yang akan berkuasa atas diri mereka sendiri. Mereka ingin lepas atas perbudakan yang dilakukan manusia. 

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." -George Orwell, Animal Farm

Akhirnya pada suatu malam para binatang di peternakan berkumpul menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan kepada Pak Jones, pemilik peternakan.

'Rapat penting' itu dipimpin oleh Major, seekor babi yang dihormati oleh seluruh binatang. Syahdan, pemberontakan benar-benar terealisasi. Pak Jones berhasil dipukul mundur dari peternakan. Tidak ada lagi manusia di peternakan mereka. Kekuasaan digantikan oleh Snowball dan Napoleon, dua babi cerdas. 

Pengaturan mulai disusun demi kehidupan peternakan yang teratur. Prinsip-prinsip kehidupan yang mereka sebut sebagai "Prinsip Binatangisme" digaungkan kepada seluruh penghuni peternakan. Prinsip Binatangisme ini tertuang dalam Tujuh Perintah, isinya sebagai berikut:

  1. Apa pun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.
  2. Apa pun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman.
  3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian.
  4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang.
  5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol.
  6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain.
  7. Semua binatang setara.

Pada mulanya kehidupan berjalan normal, para binatang berbahagia karena berhasil merdeka atas perbudakan manusia. Snowball dan Napoleon sangat dihormati sebagai pemimpin. Setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka berarti itulah tindakan yang paling tepat dilakukan. 

Kecerdasan keduanya tidak diragukan lagi. Hanya golongan babi yang dianggap paling cerdas di antara para binatang; mereka pandai membaca, berpikir, dan menganalisis permasalahan hingga menemukan jalan keluar yang tepat. 

Singkatnya, tak usah ragu atau risau bahkan berpikir dua kali untuk melaksanakan perintah Snowball atau pun Napoleon, karena titah yang keluar dari mereka pastilah hasil berpikir panjang dengan penuh pertimbangan. 

Namun apalah mau dikata, kekuasaan ternyata begitu memabukkan. Sistem demokrasi yang mulanya dijunjung tinggi di seluruh peternakan akhirnya kembali menjadi tirani. Sifat serakah salah seorang pemimpin membuatnya dengan licik menyingkirkan rekannya.

Tak ada lagi dualisme kepemimpinan. Semua berjalan atas kehendaknya, bersikap manipulatif dan memberi ilusi kepada seluruh binatang bahwa bagaimana pun kerasnya kehidupan mereka, tidak ada yang lebih melegakan daripada fakta bahwa mereka tidak lagi di bawah kendali manusia. 

Kenyataan itu membuat para binatang kembali menjadi tenang dan tidak lagi memusingkan berbagai pergulatan yang bercokol dalam kepala. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline