Lihat ke Halaman Asli

Ada Apa dengan Pendidikan Indonesia? (Dari Entah Kapan Sampai Muhadjir)

Diperbarui: 8 Agustus 2016   18:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

education5-57a84a6a117b61981a490dd4.jpg

Kita semua tentu tidak asing dengan yang namanya sistem pendidikan. Menurut para ahli (penulis sih tidak yakin), sistem pendidikan adalah suatu system yang terdiri dari komponen-komponen yang ada dalam proses pendidikan, dimana antara satu komponen dengan komponen yang lainnya saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan pendidikan. Namun apakah benar sistem ini benar-benar berkehendak untuk mencapai tujuan pendidikan..atau malah..:

1. dimanfaatkan penguasa/kalangan tertentu untuk program pencucian otak dengan pretensi khusus? (Authoritarian)

2. dimanfaatkan oleh segerombolan orang yang bernaung pada suatu institusi tertentu sebagai ladang uang dengan cara memanfaatkan sistem ganda?(Paulo Freire - Sekolah Kapitalisme Yang Licik)

3. dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyatakan bahwa masyarakat penerus wajib mengalami suatu ketergantungan terhadap suatu institusi/biro/perusahaan tertentu? (Invisible Hand Theory)

Baru-baru ini (mungkin baru hari ini, mungkin kemarin), kita dikagetkan oleh pernyataan Mendikbud baru kita Muhadjir Effendy yang menyatakan bahwa seluruh siswa SD dan SMP akan menggunakan sebuah sistem bernama Full Day School. Yah, penulis tidak perlu lah ya menjelaskan maksudnya, sejak sistem itu sendiri sudah menggaungkan tujuan eksistensinya dari namanya sendiri yang digaungkan oleh punggawa baru pengganti Bung Anies ini.

Dari pertama sistem ini dilahirkan oleh sang MP (Menteri Pendidikan), basis ini sudah memperoleh kecaman dan sindiran di mana-mana. Ada yang bilang itu mengekang kebebasan anak bermain, ada juga pelajar yang curhat mengenai lelahnya sekolah 8 jam 5 hari seminggu, ada juga yang malah jualan di layar komentar media sosial.

Disini penulis hendak melihat argumen yang dilontarkan mantan rektor UMM ini, dan bila mungkin..mengkritik (tanpa tertangkap aparat heheheh).

1. "Dengan sistem full day school, anak akan terbangun karakternya dan tidak akan menjadi liar di luar ketika orang tua masih bekerja"

Jujur saja, penulis tertawa ketika membaca argumentasi bagian ini. Seolah sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, namun juga sebagai base untuk 'character building'. Tidak salah sih, namun dengan pernyataan orang tua bekerja, seolah melepas tanggung jawab orang tua dan keluarga dari kewajiban mendidik karakter anak bangsa. Lagipula, penulis juga cukup yakin anak-anak sebenarnya tidak betah tetap 'stay' di sekolah..(kecuali ada teman-temannya tentunya).

2. Mengatakan di hadapan banyak orang di Malang abhwa ia akan merestorasi sistem pendidikan SD-SMP

Pengalaman penulis hidup di Indonesia (full 18 tahun), salah satu hal yang mustahil dilakukan di Indonesia adalah mewujudkan mimpi. Kenapa mimpi? Karena mimpi adalah teman dekat dari idealisme murni, dan yah..idealisme murni tidak pernah berjalan seiring dengan kapitalisme yang melanda negeri ini (tentunya kecuali idealism eitu sendiri berbicara tentang kapitalisme). Yah..good luck ajalah Bung.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline