Lihat ke Halaman Asli

Syamsu Alam

Pembelajar Ekonomi dan Pasar Modal

Seberapa "Kaya" Kita Memahami Kemiskinan?

Diperbarui: 5 Desember 2015   15:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Setelah sekian lama tidak menjenguk lama ini. Kini dapat berpartisipasi lagi. Ini salah satu laman berbagi dengan ikhlas :) yang banyak ikhlas dialah yang kaya.

 SEBERAPA “KAYA” KITA MEMAHAMI KEMISKINAN?

 Syamsu Alam

 Sesungguhnya kemiskinan mendekatkan diri pada kekufuran

Darimanakah kemiskinan berasal? Pertanyaan klasik nan sederhana tersebut tidak sesederhana menjawabanya apalagi hendak menyelesaikannya. Karena dari jawaban atas pertanyaan tersebut akan menimbulkan pertanyaan turunan. Kemiskinan boleh jadi akan selalu ada sepanjang sejarah umat manusia. Sepanjang logika perbandingan masih mendominasi pemikiran manusia. Konsepsi kemiskinan dan penanganannya bahkan “proyek kemiskinan” adalah cerita lama yang paling dinamis dan terseksi dibahas diberbagai tingkatan.

Pinggiran kota hingga ibukota Negara, trotoar hingga hotel berbintang, korban kebijakan hingga penentu kebijakan, diskusi lesehan di kampus, riset akademik hingga janji politisi yang selalu didaur ulang agar terkesan peduli pada kemiskinan di si miskin. Sejak zaman manusia pertama hingga kini, terma kemiskinan masih diperdebatkan; definisi, ukuran/indikator hingga cara mengatasinya, yang kesemua dimensinya tersebut berkaitan erat dengan sejauhmana pengetahuan kita tentang terma tersebut.

Abad 21 menghadirkan kembali pentingnya rezim pengetahuan. Dimana pengetahuan (termasuk kreatifitas) adalah salah satu faktor produksi yang penting dalam pandangan kaum neoklasik. Knowledge is Power, kata Francis Bacon. Bahkan jauh sebelumnya pesan revolusioner pertama al Quran ‘Bacalah’ merupakan diktum pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad akan pentingnya membaca sebagai basis utama memperoleh pengetahuan. Sebelumnya lagi hadirnya kita di dunia karena ulah Nabi Adam yang mengkonsumsi buah huldi, buah ‘pengetahuan’. Namun pengetahuan apa dan bagaimana yang dapat mereduksi kemiskinan? Atau jangan-jangan kemiskinan konsepsi yang membuat kita masih terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan.           

Mainstream Pendekatan Kemiskinan

Sejak 1950-an ketika pendapatan nasional mulai dijadikan indikator pembangunan. Pada umumnya ilmuan sosial merujuk pada pendekatan tersebut ketika berbicara masalah kemiskinan satu negara. Pengukuran kemiskinan kemudian sangat dipengaruhi oleh perspektif income poverty yang menggunakan indikator pendapatan sebagai satu-satunya indikator “kemiskinan”.

Di bawah kepemimpinan Mahbub Ul Haq (ekonom asal Pakistan) pada tahun 1990an, UNDP memperkenalkan pendekatan Human Development yang diformulasikan dalam bentuk Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) dan Indeks Kemiskinan Manusia. Dibandingkan dengan pendekatan yang dipakai Bank Dunia, pendekatan UNDP relatif lebih komprehensif karena mencakup beberapa dimensi, yaitu dimensi ekonomi (pendapatan), dimensi pendidikan (angka melek huruf), dan dimensi kesehatan (angka harapan hidup). Pendekatan kemiskinan versi UNDP berporos pada paradigma pembangunan populis/kerakyatan yang memadukan konsep pemenuhan kebutuhan dasar dari Paul Streeten dan teori kapabilitas yang dikembangkan Amartya Sen.

Mainstream pendekatan modernisasi ala Bank Dunia dan pendekatan populis UNDP masih melihat kemiskinan sebagai kemiskinan individu dan kurang memperhatikan kemiskinan struktural. Sistem pengukuran dan indikator yang digunakannya terfokus pada “kondisi” atau “keadaan” kemiskinan didasarkan pada faktor-faktor ekonomi yang dominan. Orang miskin hanya dipandang sebagai “orang yang serba tidak memiliki”, tidak memiliki pendapatan tinggi, tidak terdidik, tidak sehat, tidak mempunyai faktor-faktor produksi dan sebagainya. Pun, ukuran-ukuran ‘ketidak memiliki sesuatu’ di tentukan dan diberlakukan secara general oleh lembaga-lembaga tertentu kepada setiap kelompok masyarakat/Negara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline