Lihat ke Halaman Asli

Lukas Benevides

Pengiat Filsafat

Fiksi "Self"

Diperbarui: 15 Maret 2021   15:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Di sebuah dusun kecil, hiduplah sepasang keluarga muda. Kedua suami-istri adalah lulusan terbaik di kampus ternama di negerinya. Sang suami lulusan master fisika kuantum, sedangkan sang istri adalah jebolan program psikologi terbaik. 

Usai setahun menikah, mereka mendapat seorang anak. Berbekal akumulasi pengalaman pengetahuan yang mumpuni, mereka sepakat untuk mendidik anak ini menjadi dirinya sendiri: bukan menurut versi ibu atau versi bapak. Lantas mereka membiarkan anak itu bertumbuh tiga tahun awal tanpa mendorong anak itu mempelajari psikologi atau fisika kuantum. 

Anak bertumbuh secara fisik dan mental tanpa hambatan. Menginjak usia 5 tahun, usia Taman Kanak-Kanak, anak ini didapati gurunya di sekolah suka Menyusun bagan dengan banyak hitungan. Guru yang baik tersebut lalu menyampaikan kepada orangtua anak dan mereka mendapati bahwa ternyata sang anak memiliki kemampuan kinestetik-motorik dan numberik, kemampuan awal untuk mempelajari fisika kuantum. 

Mengetahui hal tersebut, sang istri spontan naik pitam. Ia menuduh selama ini suaminya diam-diam mengajarkan sang anak untuk menjadi seorang fisikawan. Sang suami menangkis tuduhan tersebut. Ia bersumpah atas langit kalau tidak pernah mengatakan sekatapun kepada anak mereka untuk mengikuti jejak ayahnya.

Tak tahan dengan pertengkaran mulut kedua pasangan muda tersebut, guru TK yang baik hati lantas bertanya.

"Di rumah, bapak dan ibu biasanya melakukan kegiatan apa? Siapa yang paling sering menemani anak mereka?".

"Saya ibu", spontan sang suami menjawab, "istri saya guru sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Saya sendiri peneliti fisika kuantum dan sering menghabiskan waktu di laboratorium penelitian saya di rumah bersama anak kami".

"Keseringan sang anak bermain bersama bapaknya saat bapaknya bekerja di laboratorium di rumah itulah yang membentuk anak bapak-ibu saat ini", guru tersebut menyimpulkan tanpa menggurui pasangan muda tersebut.

Di dalam rangka perayaan 125 tahun, London School of Economics and Political Science (LSE) tahun 2020 mengadakan sebuah webinar yang menghadirkan 5 peneliti dari Eropa dan Amerika Serikat. Topik webinar ini ialah "Digital Technologies in the Lives of Children and Young People". Webinar ini mencari tahu jawaban atas satu pertanyaan pokok: bagaimana teknologi digital mempengaruhi anak-anak dan remaja jenjang usia 5-18 tahun di benua Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia, locus penelitian para peneliti yang menjadi pembicara di dalam webinar tersebut. 

Para pembicara memiliki pendekatan metodologis berbeda, tetapi semua memiliki kesimpulan serupa: anak-anak dan remaja di negara-negara yang memiliki ekosistem teknologi yang inklusif merata di seluruh sudutnya sangat intens dipengaruhi oleh teknologi digital. Sementara itu, anak-anak di negara-negara seperti Romania dan beberapa negara Eropa Timur tidak dipengaruhi teknologi digital karena tidak memiliki fasilitas internet di lingkungan rumah dan sekolahnya.

Penelitian di atas memiliki satu asumsi antropologis dasar: setiap individu dapat dipengerahui faktor-faktor eksternal. Tidak hanya perkembangan teknologi digital, sirkulasi apapun di sekitar individu secara sadar dan tidak sadar mempengaruhi dan membentuk individu. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline