Lihat ke Halaman Asli

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Selalu berusaha mendapatkan hal baik untuk diri sendiri lalu menebarkannya ke yang lain

Pesona Akhlak Nabi Meluluhkan Hati Sayyidah Khadijah yang Suci

Diperbarui: 12 Januari 2023   00:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ngaji Sayyidah Khadijah Part III/Dokpri

Apa yang hendak kata saat cinta berucap lain. Urusan hati sungguh tak bisa kita paksa. Orang-orang bisa saja memaksa kita melakukan sesuatu, dan kita mungkin bisa melakukannya. Tapi tidak dengan cinta. Seseorang tak dapat memaksa untuk mencintai dan untuk dicintai. Sehingga tepat statement Mbah Sujiwo Tejo, "Engkau bisa saja menentukan akan menikah dengan siapa, tapi engkau tak bisa menentukan cintamu untuk siapa".

Sebab, mencintai dan menikahi adalah dua hal yang jauh berbeda. Menikah adalah pekerjaan yang lebih terbuka. Ia bisa kita jalani walau terpaksa. Berbeda dengan mencintai, ia lebih eksklusif. Kalaupun engkau mampu menikahi atau dinikahi seribu pasangan yang mencintaimu belum tentu kau bisa mencintai seluruhnya. Inilah keistimewaan Nabi. Melalui pesona akhlak Nabi, mampu meluluhkan hati Sayyidah Khadijah yang suci

Kondisi inilah yang saat itu Sayyidah Khadijah alami. Dari sekian banyak pria keren, kaya raya, dan berpangkat tinggi yang melamarnya, tak satu pun ia terima. Semua tertolak mentah-mentah. Hati sang perempuan tangguh itu tak tergerak walau sekejap. Namun pesona Akhlak Nabi, telah menambat hatinya.

Sepeninggal suami keduanya-entah yang bernama Abu Halah Hindun atau Atiq bin 'Aidz, mengingat tak ada keterangan yang tegas menyebutkan siapa suami pertama dan kedua Khadijah-tercatat cukup lama ia sebagai khaliyyah (perempuan tanpa suami). Sepanjang masa itu juga ia berusaha menepis rayuan dan menolak lamaran.

Sampai akhirnya Sayyidah Khadijah bertemu dengan baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seorang pria gagah yang pesona wajah dan akhlaknya mampu meredam hati para pendendam, mendinginkan amarah sang pembawa belati, dan mengubahnya menjadi mega cinta yang tak termakan usia.

Sayyidah Khadijah memang sangat girang tatkala menyambut kedatangan baginda Nabi dari Negeri Syam (saat ini mencakup Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina) bersama Maisarah dalam sebuah misi dagang. Ia tak henti-hentinya memuji keberhasilan Nabi yang pergi membawa barang dagangan, dan pulang membawa keuntungan.

Sayyidah Khadijah menatap Nabi dengan pandangan sarat pemuliaan dan penghormatan. Namun, bukan itu semata yang membuat Khadijah terpana. Jauh sebelumnya ia telah menyimpan rasa walau mungkin tak sebesar kala itu.

Apa yang disampaikan al-Ghazali ihwal kaidah cinta dalam Ihya' Ulumiddin (juz 4, hal. 298) tak bisa kita klaim salah, hanya saja tak sepenuhnya sesuai dengan kisah cinta Khadijah. Statemant al-Ghazali yang berbunyi, Wa qadd jubilat al-qulubu ila hubbi man ahsana ilaiha wa bugdhi man asa'a ilaiha (Hati seluruh makhluk itu terdesain untuk mencintai siapapun yang berbuat baik kepadanya, dan membenci siapapun yang jahat terhadapnya), berlaku bagi masyarakat umum.

Dan, Khadijah tidak masuk di sana. Sebab, ia telah mencintai Rasulullah sebelum mereka menjadi partner kerja dan menghasilkan banyak keuntungan. Karenanya, kebaikan pesona akhlak Nabi hanya menambahkan, bukan menumbuhkan.

Sayyid Muhammad al-Maliki dalam al-Busyra (hal. 14) mengatakan;

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline