Lihat ke Halaman Asli

Brader Yefta

TERVERIFIKASI

Menulis untuk berbagi

Geng Sekolah, Isinya 'Indonesia Mini' dan Kenangan Bersama

Diperbarui: 30 April 2021   21:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber:indozone.id_Anak SMP Jadul

I remember my youth and the feeling that will never come back any more ...(Joseph Conrad,penulis Polandia)

Mungkin sudah dari sononya, saya kecemplung pada yang namanya 'Indonesia' dalam tanda kutip. 

Sejak kecil hingga sekolah menengah, punya teman -teman akrab, yang jauh lebih banyak tidak sesuku dan sedaerah. Dan itu berlanjut hingga sekarang di usia dewasa. 

Faktor latar belakang keluarga mungkin mempengaruhi. Lahir dan tumbuh menjalani masa anak-anak di sebuah komplek perumahan khusus Pegawai Negeri. 

Konsekuensinya punya tetangga kiri kanan yang notabene rekan sekerja almarhum Papa, memang berasal dari berbagai propinsi. 

Ada orang Sunda, orang Bali, orang Manado, orang Ternate, orang Batak, orang Padang, orang Jawa dan suku lainnya di Indonesia. 

Itu ditambah lagi dengan atasan ortu di kantornya, yang kebanyakan di tahun segitu, bukan asli orang daerah. 

Bervariasi bak gado-gado nusantara. Ini bikin dari kecil sudah lebih banyak akrabnya sama anak-anak yang 'berbeda'.  

Seumuran, sepantaran. Main kelereng sama-sama hingga meriam bambu. Salam-salaman tiap hari raya keagamaan, hingga main ke rumahnya sampai nginap-nginapan. 

Jadilah Bapak-Bapaknya sahabatan di kantor, anak-anaknya juga satu sama lain. Like father like son. 

Alhasil sejak belum SD, saya sudah bisa membedakan mana Si Asep, Si Putu, Si Nyong , Si Ucok dan Si Nduk. Ini gara-gara nama panggilan sehari -hari teman-teman saya yang kerap disebutkan Mama Papa nya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline