Lihat ke Halaman Asli

Aditya

Mahasiswa Sosiologi

Strategi MLM hingga Pindahnya Markas Oposisi, Ada Apa?

Diperbarui: 10 Desember 2018   00:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: benankmerah.co

Panggung pemilihan presiden 2019 yang menyisakan beberapa bulan lagi semakin menuju klimaksnya, dua kubu saling baku hantam untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Konflik antar pendukung pun tak terelakkan gara-gara punya opini mengenai jagoannya masing-masing yang maju di pemilihan presiden 2019 mendatang, ini yang pada akhirnya menjadi penyakit di masyarakat Indonesia.

Di kubu pemenangan Jokowi terus gigih menggencarkan semangat kerja nyatanya dan di kubu sebelah yaitu kubu pemenangan Prabowo, merongrong petahana melalui celah-celah kecil yang dapat menjatuhkan elektabilitas petahana. 

Media pun tak mau ketinggalan, dengan menyuapi publik dengan informasi-informasi seputar pilpres 2019 dengan sudut pandangnya masing-masing yang pada akhirnya membuat masyarakat kebingungan mana yang dapat dipercaya.

Ditengah kebingungan masyarakat akan informasi-informasi yang diberikan oleh media seperti TV maupun berita online, ternyata hal tersebut dimanfaatkan oleh segelintir oknum tak bertanggung jawab untuk menyebar hoax dan ujaran-ujaran kebencian melalui sosial media yang menguntungkan salah satu kubu. Hal ini menambah parah keadaan masyarakat Indonesia yang semakin kebingungan, sebenaranya mana informasi yang benar.

Di dunia nyata, ada gerakan masyarakat yang menamai dirinya Gerakan 2019 Ganti Presiden  yang menggelar deklarasi diberbagai daerah di Indonesia. Gesekan-gesekan antar pendukung pun tak terelakkan, deklarasi yang bertujuan damai berujung bentrok. Ini tentu sangat disayangkan, pilpres yang dicita-citakan kondusif malah seperti tak beradab.

Terlepas dari segala intrik-intriknya, pilpres 2019 memang mempunyai daya tarik sendiri, yaitu prabowo yang sangat berambisi untuk menjadi presiden Indonesia. 

Setelah dua pilpres sebelumnya ia gagal, kini ia bersanding dengan salahsatu pebisnis muda sukses yaitu Sandiaga Uno. Baru-baru ini tim pemenangan Prabowo-Sandi memindahkan markas mereka ke Jawa Tengah, membuat publik bertanya-tanya strategi apalagi yang akan dilancarkan tim pemenangan oposisi kali ini.

Jika diperhatikan seksama, tim pemenangan oposisi sebenarnya ingin memengaruhi basis suara terbesar PDIP di pulau jawa dan menkonversikannya menjadi suara untuk oposisi. 

Dari beberapa berita yang dilansir, tim pemenangan akan menerapkan strategi MLM dengan dipindahkan markas mereka ke Jawa Tengah. Dengan memengaruhi dua orang diharapkan dua orang tersebut bisa memngaruhi tiga orang dan seterusnya, yang pada akhirnya suara oposisi bertambah.

Banyak beredar isu bahwasanya dipindahkannya markas tim pemenangan ke Jawa Tengah didasarakan ketakutan bahwa elekstabilitas Jokowi lebih unggul sehingga dibutuhkan suatu strategi untuk memecah belah suara petahana.

Sumber gambar: poliklitik.com

Mari kita lihat sumber dari beberapa lembaga survey terkait elektabilitas kedua paslon selama dua bulan masa kampanye. Charta Politika (46.1% & 40.5%), Poltracking (57.0% & 33.7%), Populi Center (64.3% & 25.3%), Indikator Publik (69.6% & 29.0%), Cyrus Network (64.0% & 29.8%), Indo Barometer (50.4% & 27.5%), LSI Denny Ja (53.6% & 28.8%), Jokowi-Ma'ruf mengungguli Prabowo-Sandi.

Pemindahan markas tim pemenangan kubu opisisi mungkin langkah yang cukup tepat, apalagi Prabowo sempat blunder mengenai ojek online beberapa waktu yang lalu. Sehingga menurunkan elektabilitas nya di masyarakat. terutama pada masyarakat menengah kebawah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline