Lihat ke Halaman Asli

Adia Puja

Konsultan Kriminal

Manusia Indonesia Tandingan

Diperbarui: 9 Februari 2017   23:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Gambar: reportasenews.com

Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis, setidaknya ada 12 ciri: Hipokrit, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, dan seterusnya. Pada pidato kebudayaannya yang kelak dibukukan tersebut, Mochtar Lubis “berani” menyuarakan pemikirannya, yang bisa saja membuat orang Indonesia berang. Padahal, ciri-ciri Manusia Indonesia tersebut sangat layak kita amini. Termasuk saya.

Masih ingat soal gubernur dan presiden tandingan yang muncul di tahun 2014-an? Ketika itu, Jokowi menjadi presiden, otomatis Ahok menjadi Gubernur Jakarta. Momen tersebut dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk membuat presiden dan gubernur tandingan. Kalau saya tidak salah, ada juga DPR tandingan. Pokoknya, segala ditandingkan kayak Tamiya atau gundu.

Nah, lantas apa hubungan antara manusia Indonesia dengan “tandingan”? Tentu ada. Apa karena manusia Indonesia doyan bertanding? Bisa jadi, meskipun kalah melulu. Jadi begini, saya juga ingin dong membuat tandingan dari ciri manusia Indonesia yang dibuat oleh Mochtar Lubis. Kalau Mochtar Lubis bisa, kenapa saya tidak? Kira-kira begitu juga dengan apa yang dipikirkan oleh para tandingan Jokowi atau Ahok beberapa tahun silam.

1. Stiker/Gambar Tempel

Stiker yang saya maksud bukan Messi atau Luis Suarez. Tapi gambar tempel. Disadari atau tidak, manusia Indonesia gemar menempelkan stiker. Di kendaraan mereka, pintu rumah, jendela, bahkan mungkin ada yang menempelkannya di jidat. Jika Anda cukup iseng, coba perhatikan di kendaraan di jalanan, yang tanpa stiker, bisa dihitung dengan jari. Apakah itu stiker bernada sinis tentang motor atau mobil matic dan manual, atau kata-kata lucu, atau logo-apapun. Juga ada yang memasang stiker Hello Kitty. Biasanya mobil Honda Jazz atau Avanza.

2. Buta Warna

Manusia Indonesia, rata-rata buta warna. Tidak tanggung, mereka menderita buta warna parsial. Kenapa? Karena ketika traffic light menunjukkan warna merah, mereka kira hijau, akhirnya tetap nyelonong. Atau ketika lampu berubah menjadi merah dari hijau, mereka justru berlama-lama diam. Bahkan jika sudah akut, mereka malah tidak mengenal warna kuning sama sekali.

3. Doyan Berfoto

Poin ini merupakan sifat baru dari manusia Indonesia. Dengan kata lain, muncul sebagai dampak pergeseran budaya. Manusia Indonesia doyan berfoto. Begitulah adanya. Kamera dan ponsel berkamera menjadi kebutuhan primer yang tidak kalah penting dari nasi. Satu orang saja manusia Indonesia, bisa kedapatan menyimpan foto dirinya sebanyak ribuan. Setiap momen yang terjadi, seolah akan berdosa jika luput dari jepretan kamera.

4. Ogah Hitam

Ini yang paling tidak saya pahami. Mengapa manusia Indonesia sangat terobsesi untuk memutihkan kulitnya? Mereka rela menghabiskan sejumlah uang demi memutihkan kulit. Berbagai iklan kosmetik menjadikan “kulit putih” sebagai hook untuk menggaet konsumen. Hal tersebut otomatis membuat paradigma, bawa hitam adalah jelek. Saking parahnya, bahkan kini semakin menjamur aplikasi mengedit foto agar kulit terlihat lebih putih. Dan lucunya, manusia Indonesia sadar betul bahwa berbohong adalah perbuatan dosa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline