Lihat ke Halaman Asli

Adi Putra

Dosen STT Pelita Dunia

Kebangkitan Yesus Kristus

Diperbarui: 9 Agustus 2022   11:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Gambar: https://katolisitas.org/melihat-kristus-yang-bangkit/

Jemaat Tuhan di Korintus percaya dan meyakini tentang peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena seperti yang juga disinggung oleh Paulus pada bagian awal perikop ini bahwa peristiwa kebangkitan Yesus disaksikan oleh ratusan saksi (ay. 6), serta orang-orang dekat Yesus.

Sekalipun demikian, jemaat Tuhan di Korintus kesulitan untuk mempercayai kebangkitan tubuh orang mati secara umum. Bahkan ada indikasi mereka tidak mempercayai bahwa semua orang percaya akan dibangkitkan seperti Yesus dan tubuh mereka akan disatukan kembali dengan jiwa mereka dan menjadi satu tubuh dengan Tuhan Yesus.

Mereka banyak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf Yunani yang meyakini bahwa ketika orang meninggal dunia, jiwa kita memasuki dunia yang lain tetapi tubuh kita binasa untuk selamanya. Tidak seperti banyak filsuf sekarang, mereka percaya bahwa walaupun tubuh binasa, akan tetapi jiwa itu abadi. Hal ini yang juga diajarkan oleh Plato. Baginya, jiwa terpenjara oleh tubuh. Ketika seseorang meninggal, jiwa justru mengalami pembebasan, kemerdekaan karena terbebas dari penjaranya, yakni: tubuh. Itulah sebabnya, filsafat Yunani mendikotomikan jiwa dan tubuh. Bagi mereka, jiwa itu penting, sedangkan tubuh sebaliknya (tidak penting).

Paradigma seperti inilah yang mempengaruhi beberapa orang Kristen di Korintus. Sehingga mereka tidak lagi memandang kebangkitan tubuh sebagai hak istimewa. Bagi mereka, kebangkitan murni lebih bersifat rohani. Hal inilah yang banyak dipegang dan diyakini oleh banyak teolog modern. Mereka berkata kebangkitan Kristus hanya menunjuk kepada kebangkitan roh atau ajaran Kristus saja.

Mereka mengklaim bahwa tubuh Yesus masih terbaring di dalam kubur, tetapi jiwa-Nya telah berlalu. Hanya ajaran, doktrin, dan roh Kristus yang masih hidup. Bagi mereka, hanya ajaran Kristus yang abadi, dan doktrin itu bukanlah pribadi Kristus yang telah dibangkitkan.

Teologi ini sepenuhnya sesat, keliru dan menyangkal kebangkitan tubuh yang jelas-jelas juga menantang ajaran serta kesaksian Alkitab. Ajaran-ajaran yang keliru seperti inilah yang coba dijelaskan dan diluruskan oleh Paulus dalam perikop ini (15:1-11). Dalam perikop ini, minimal ada tiga hal penting yang hendak disampaikan oleh Paulus, yakni:

  • Paulus Menegaskan bahwa Kebangkitan Kristus = Injil (ay. 1-4)

Kata "Injil" berasal dari kata Yunani, "euangelion".  Biasanya ungkapan ini diartikan "kabar baik, kabar sukacita". Biasanya ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan sebuah berita kemenangan dari medan perang. Di mana setiap prajurit yang kembali dari perang dengan selamat dengan membawa kabar kemenangan kepada seluruh penduduk kerajaan. Sehingga hal itu membawa kegembiraan dan sukacita tersendiri.

Menurut Bauers Danker dalam BDAG, euangelion dapat diartikan: (1) kabar baik Tuhan kepada manusia, kabar baik sebagai proklamasi; (2) rincian yang berkaitan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus, kabar baik Yesus; dan (3) sebuah buku yang berhubungan dengan kehidupan dan pengajaran Yesus, sebuah catatan Injil. Di mana dalam konteks 1 Korintus 15:1 lebih cocok dipahami pada pengertian nomor pertama.

Nah, yang menarik karena dalam perikop ini, Paulus menyebut kebangkitan Yesus sebagai Injil atau kabar sukacita, kabar gembira, kabar baik bagi seluruh manusia yang berdosa. Karena dengan kebangkitan Yesus, maka ada harapan bagi setiap manusia untuk memperoleh keselamatan di dalam Kristus. Seperti yang dikemukakan oleh Paulus dalam ayat 1-4 bahwa:

  • Oleh Injil itu kamu diselamatkan. Kata yang digunakan Paulus untuk kata "diselamatkan" adalah zoso. Menurut BDAG, kata ini dapat dipahami dengan: (1) untuk menjaga atau menyelamatkan dari bahaya dan penderitaan alam, menyelamatkan, menjaga dari bahaya, melestarikan, menyelamatkan (menyelamatkan dari kematian; membawa keluar dengan selamat, menyelamatkan/bebas dari penyakit; menjaga, menjaga dalam kondisi baik; [lulus.] berkembang, makmur, baik-baik saja); (2) untuk menyelamatkan atau menjaga dari bahaya atau kehancuran transenden, menyelamatkan / menjaga dari kematian abadi ([pass.] diselamatkan, mencapai keselamatan).
  • Melalui kebangkitan Yesus, maka kematian-Nya karena dosa-dosa kita supaya kita dapat memperoleh pengampunan dosa menjadi sempurna. Kata "dosa" dalam ayat 3 menggunakan kata "hamartia". BDAG mengatakan kata ini dapat diartikan: (1) penyimpangan untuk standar kebenaran manusia atau ilahi (dosa, dosa khusus); (2) keadaan berdosa, keberdosaan; (3) kekuatan jahat yang merusak.
  • Bahkan melalui kebangkitan Yesus menegaskan Allah menepati janji-Nya. Karena kebangkitan Yesus terjadi sesuai nubuat Kitab Suci. (adanya penegasan bahwa Yesus benar-benar telah mati, dan telah bangkit sesuai dengan nubuat dalam PL).

Sehingga hanya melalui peristiwa kebangkitan Kristus menjadikan kita selaku orang berdosa dapat terbebas dari hukuman dosa. Melalui kebangkitan Yesus, iman kita tidaklah menjadi iman yang sia-sia, melainkan iman yang memberikan hidup dan membawa kepada hidup. Selain itu, melalui kebangkitan Yesus, dosa-dosa kita telah diampuni.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline