Lihat ke Halaman Asli

Achmad Saifullah Syahid

TERVERIFIKASI

Penulis

Antara Enak dan Tidak Enak: Menemukan Kembali Makna Produktivitas

Diperbarui: 10 Juni 2019   13:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: https://cellcode.us

Kalau antara bekerja atau istirahat, kreasi atau rekreasi, masuk kerja atau libur kerja, jam kosong atau belajar di kelas adalah dua kubu yang saling bertentangan, maka kita akan lebih mudah memilih istirahat daripada bekerja, rekreasi daripada berkreasi, libur kerja daripada masuk kerja, jam kosong daripada belajar.

Dikotomi pilihan itu tidak jauh berbeda dengan ketika kita disodori sesuatu yang menurut kita enak dan tidak enak. Manusia normal akan memilih yang enak. 

Enak istirahat dibanding kerja. Enak rekreasi ketimbang mikir kreasi. Enak libur kerja daripada masuk kerja. Enak jam kosong ketimbang belajar.

Tidak heran apabila setelah menikmati libur panjang kita enggan untuk beranjak dari situasi enak dan nyaman. Barangkali kita juga dengan mantab dan "ikhlas" mau menerima gaji sepuluh juta per bulan tanpa harus bekerja apapun.

Apa yang kita diskusikan ini mungkin tidak berkaitan langsung dengan produktivitas, kreativitas, loyalitas atau sikap esensial lainnya tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani. 

Kita masih terjebak pada hal-hal yang remeh temeh, misalnya bagaimana menata niat, menyusun mindset, menyeimbangkan mental. Kenapa remeh temeh? 

Kita belum tuntas mengurai bundelan-bundelan internal itu sehingga cukup mudah terjebak pada pola pikir dikotomis antara yang enak dengan yang tidak enak.

Produktivitas menjadi narasi tanpa nilai. Atau---jujur saja---produktivitas itu dihasilkan melalui sikap mental yang penuh keterpaksaan. Bekerja rajin saat ditunggu Juragan Besar. Masuk kantor tepat waktu karena ada ancaman regulasi. Berdisiplin demi menyelamatkan diri agar tidak dipindah ke lahan yang "kering".

Pada sisi tertentu semua itu tidak salah dan sah-sah saja. Orang bilang: "Wajar kok bekerja mengharap imbalan." Benar, dan sampai sebatas apa kewajaran itu berlangsung dalam diri kita? Jangan-jangan kita belum memiliki daya survival internal karena masih bergantung pada "rabuk" eksternal.

Agaknya Tuhan mengerti benar tipologi psikologi makhluk bernama manusia. Seandainya tidak ada kewajiban shalat lima waktu mungkin tidak ada inisiatif manusia untuk mengerjakannya. 

Enak-enak ngopi, ngobrol bersama teman, atau lagi leyeh-leyeh sambil menonton televisi disuruh shalat. Mengapa diwajibkan? Haqqul yakin, dan kalau kita jujur sejujur-jujurnya, mengerjakan shalat adalah pekerjaan maha berat. Kalau tidak dipaksa melalui regulasi hukum wajib, kita memilih enak tidak shalat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline