Lihat ke Halaman Asli

Abd Rahman Hamid

Penggiat Ilmu

Dispora Mandar (5) Modernisasi Pelayaran

Diperbarui: 2 Desember 2022   10:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi pribadi

Pada tahun 1970-an, dunia bahari Mandar mencapai satu fase perubahan penting dan paling menentukan gerak pelaut Mandar di lautan, yaitu modernisasi pelayaran. Kalau semula perahu digerakan oleh tenaga angin dan layar, maka sejak saat itu perahu juga digerakan oleh tenaga mesin.

Gerak perahu tidak selalu dan selamanya ditentukan oleh tiupan dan arah angin.Tenaga mesin mampu menggerakan perahu kapan dan ke arah mana pun sesuai tujuan atau kebutuhan pengguna. Frekuensi pelayaran pun semakin banyak.

Tetapi, apakah modernisasi langsung direspon baik oleh semua pelaut Mandar? Bagaimana bentuk responnnya? Apa implikasinya terhadap kehidupan orang Mandar di Kalimantan Selatan?

Mulai awal tahun 1970-an, perahu-perahu layar di Indonesia menggunakan mesin sebagai tambahan tenaga penggerak perahu. Karena mesin sebagai tenaga tambahan dan angin masih merupakan tenaga utamanya, maka armadanya pun sering disebut Perahu Layar Motor (PLM). Daya muat perahu umumnya kurang dari 100 ton. 

"Waktu berangkat dari sini, perahu hanya pakai layar. Namun setelah kembali dari Jawa, perahu sudah ada mesinnya", kata para pelaut tua kepada penulis saat wawancara di pulau Kerasian, pulau Kerayaan, pulau Kerumputan, Tanjung Seloka, Tanjung Lalak, dan Tanjung Pelayar pada November 2022.

Mesin dipasang pada perahu lete dan baqgo yang sudah lama digunakan. Tidak banyak perubahan kontruksi perahu, kecuali penyesuaian tempat pemasangan mesin di buritan perahu.  

Pada mulanya sebagian pemilik perahu agak ragu memasang mesin di perahu, khawatir guncangan mesin membuat perahu rusak. Tetapi, setelah melihat perahu lain yang memakai mesin dapat berlayar dengan baik, bahkan frekuensinya lebih banyak dari sebelumnya, maka mereka pun ikut memasang mesin di perahunya.

Dokumentasi pribadi

Di tengah derap modernisasi pelayaran, kebutuhan armada yang besar semakin meningkat. Ini menyebabkan perahu Mandar yang berdaya muat kecil tersisih dalam pengangkutan kopra di pantai barat Sulawesi Tengah. Perahu-perahu itu mengalihkan rute dan aktivitasnya pada pengangkutan keril di pantai timur Kalimantan.

Kondisi itu direspon oleh pengusaha dan tukang perahu Mandar di Kalimantan Selatan. Mereka membangun perahu dengan muatan lebih dari 100 ton dengan model kapal, atau tidak sepenuhnya mengikuti model perahu lama (lete dan baqgo). Kedalanya kemudian ialah soal pengadaan mesin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline