Lihat ke Halaman Asli

Aymara Ramdani

Orang yang hanya tahu, bahwa orang hidup jangan mengingkari hati nurani

Senyum Indah Sindara

Diperbarui: 2 Mei 2018   13:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto taken Tim Narkopian

Senyum itu

Begitu indah

Mengalahkan indahnya

Bunga-bunga di Puncak Sindara

Dari bumi kalimantan pendakian ini aku mulai. Menuju Kota Purwakarta terlebih dahulu untuk bertemu seorang teman yang selanjutnya menggunakan kereta api jurusan Kota Purwakerto -- Jawa Tengah. Pendakian kali ini, aku bergabung dengan Komunitas Narkopian, satu komunitas dengan ciri khas ritual ngopi untuk merekatkan pertemanan.

Meet up di stasiun kereta, perjalanan selanjutnya menuju Kota Wonosobo dan beristirahat sejenak di sebuah desa dataran tinggi dengan udara yang sejuk. Pagi harinya, sebelum memulai pendakian, kami berbelanja kebutuhan terlebih dahulu di pasar tradisional yang tak jauh dari rumah Mas Sinyo, tempat kami menginap.

Matahari setinggi galah, kami menumpang kendaraan jenis pick up untuk memulai pendakian. Jumlah pendaki kali ini adalah 12 orang. Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan komunitas ini, terutama sang komandan Kang Ay, sangat friendly dan pandai mencairkan suasana.

Gunung Sindara, atau biasa dikenal dengan nama Sindoro adalah gunung berapi tipe strato yang berada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung dengan ketinggian 3.136 mdpl ini memiliki puncak gunung yang luas, sehingga mendirikan tenda di puncak ini masih menjadi pilihan, selama tidak terlalu dekat dengan bibir kawah yang menyebarkan aroma belerang pekat.

Foto taken Tim Narkopian

Ada dua jalur pendakian untuk mencapai puncak sindara. Jalur Kledung adalah jalur yang paling sering dipilih pendaki, sementara Jalur Tambi, biasanya digunakan sebagai jalur turun karena medannya yang lebih curam. Kami, memilih Jalur Tambi sebagai jalur pendakian kala itu.

Foto taken Tim Narkopian

Hamparan luas kebun teh tambi laksana greencarpet menyambut para selebritas menuju pentas. Dari awal pendakian, garis akhir perjalanan terlihat jelas menantang. Gunung ini tak memiliki vegetasi yang rindang. Jalur menanjak sangat curam dengan badan jalan selebar bahu yang bidang. Tanaman sepinggang dengan bebatuan yang tak tertanam, mengharuskan kami terus memperhatikan gerak langkah agar tak terjatuh oleh medan yang rapuh. Berjalan beriringan, tanpa ada yang tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Foto taken Tim Narkopian

Foto taken Tim Narkopian

Dari awal, Fara terlihat kurang prima di pendakian kali ini. Kurangnya persiapan, aktivitas perkantoran yang tak renggang, membuat badan seakan tak siap untuk memanggul beban. Fara berjalan pelan dengan selalu didampingi beberapa teman. Pendaki yang berjalan di depan, mengatur ritme dengan duduk bersantai menunggu jarak kembali mendekat.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline