Lihat ke Halaman Asli

yus_nita

BerEkspresi

Tingkatkan Budaya Malu agar Lautku Bebas Sampah

Diperbarui: 5 Desember 2017   05:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kapal nelayan yang sedang mencari ikan di Laut Seram (dok. Pribadi)

Keindahan jangan diragukan.  Maluku tentu tak asing bagi pecinta wisata bahari di Indonesia karena  90% wilayahnya merupakan lautan.  Hal ini  tentunya membuat aktifitas masyarakat yang tersebar pada 11 kabupaten/ kota di Maluku, lebih besar di dekat laut maupun berada sepanjang garis pantai yang cukup panjang.

Ungkapan rasa kagum sering terlontar dari wisatawan domestic atau mancanegara  tentang  keindahan laut dan pantai  Maluku. Baik  yang  berkunjung  atau  melihat postingan foto dilaman media social yang sengaja mengekspresikan keindahan laut dan alam 1244 pulau di Maluku . Bahkan tak jarang lautpun menjadi sumber inspirasi dalam mengungkapkan rasa melalui syair .

"Bagus banget pemandangannya, alami .., pingin ke situ deh "Ungkap salah seorang teman yang berdomisili di Jakarta mengutarakan niatnya saat melihat foto Pantai Dusun Patinia Desa Kawa di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku yang belum banyak dikunjungi orang dan belum dikembangkan sebagai tujuan wisata .

Laut Maluku yang menjadi inspirasi (dok. Pribadi)

Namun keindahan harusnya dibarengi dengan kesadaran masyarakat Maluku dalam  menjaga  kebersihan lingkungan.  Budaya Malu membuang sampah haruslah segera  dipupuk sejak dini. Jangan sampai  dibelakang rumah warga maupun pasar yang dibangun diatas bibir pantai  masih ditemui sampah. Di Maluku pemukiman warga, pasar, restoran, gedung kantor, pelabuhan antar pulau, aktifitas wisata hingga tujuan mencari mata pencaharianpun  berada tak jauh dari garis pantai. 

"Ada buah kelapa yang jatuh Nit, mengapa nggak dimanfaatkan ya, kalau di daerah saya sudah dijadikan uang nih," Ungkap Yusrul, salah seorang teman dari luar Maluku yang tampak terheran-heran menanyakan kepada saya melihat buah kelapa yang dibiarkan tergeletak tak dimanfaatkan . Tentunya akan menambah nilai ekonomis bila mau diolah daripada dibiarkan mengering dan menjadi sampah dilingkungan . 

Selain kesadaran harus ada kemauan masyarakat Maluku maupun stakholder terkait dalam membina masyarakat mendaur ulang sampah. Mengapa tidak ? Mmmm berpulang kepada niat dan kesadaran kita tentunya.

Jangan sampai tidak ada keinginan yang kedua mengunjungi daerah kita karena sampah adalah alasan wisatawan ke Maluku.  

kegiatan mandi Safar di Negeri Hitu Kabupaten Maluku Tengah (atas)dan Aktifitas wisata di pantai Tanjung Koako Maluku Tengah-gbr bawah (dok. pribadi)

Sayangnya kenyataan bahwa sebahagian sampah di laut berasal dari daratan dan menyebabkan ekosistem dan biota laut menjadi rusak tak dapat dipungkiri. Siapa yang akan berkunjung ke desa atau dusun yang pantainya dipenuhi sampah dan tak elok dipandang, tentu kita tak ingin itu terjadi. Selain merusak kesehatan kita akibat sampah yang menumpuk  tentunya peluang menjadikan laut kita sebagai tujuan wisata tidak akan dapat terwujud.

Berdasarkan laporan Bank Dunia Tahun 2015, diketahui bahwa marine debris yang didominasi oleh sampah plastik di Indonesia diperkirakan menduduki peringkat ke-2 di dunia. Jumlahnya sekitar 1,29 juta metrik ton per tahun, setelah Tiongkok yang sebanyak 3,53 juta metrik ton per tahun.

Akankah masyarakat Maluku merasa malu,  ikut menyumbangkan sampah bagi laut yang indah dan merupakan sumber penghidupan masyarakat kita ? Tentunya semua berpulang kepada kesadaran untuk menumbuhkan budaya  malu agar tidak membuang sampah sembarangan dan bahu membahu dengan mulai dari diri sendiri. 

Kegembiraan menikmati anugrah alam Maluku yakni laut, patutlah disyukuri dengan menjaganya dengan baik atau dengan bahasa daerah disebut "mari katong jaga bae-bae". 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline