Lihat ke Halaman Asli

Yuli Anita

TERVERIFIKASI

Guru

Romansa Sepak Bola

Diperbarui: 3 Juli 2021   20:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: Liputan 6.com

Dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang kesebelasan sepak bola,  pemain sepak bola bahkan memprediksi siapa pemenang piala Euro.  Bukan, karena memang saya tidak mengerti sepak bola. 

Yang akan saya tulis adalah betapa sepak bola bisa menimbulkan romansa tertentu.  Tulisan ini adalah pengamatan dari seorang ibu terhadap keluarganya yang gemar sepak bola. 

Sejak kecil dua anak laki-laki saya  adalah penggemar sepak bola. Mungkin bawaan dari bapaknya yang juga penggemar berat sepak bola. Setiap pagi saat koran datang, yang dilihat pertama oleh anak saya adalah kolom olah raga.  Di halaman depan koran selalu ada kolom klasemen sementara.  Dia selalu serius memperhatikan klasemen tersebut.  Padahal saya yakin dia tidak mengerti.  Lha wong belum bisa membaca. Ia hanya meniru-niru gaya bapaknya saja. 

Acara TV yang tidak pernah luput diikuti adalah Liga Italia yang ditayangkan di RCTI setiap Minggu malam.  Tiap Minggu malam menjelang ditayangkannya Centrocampo sering anak saya bersama bapaknya mencari cemilan sebagai teman melihat sepak bola.

Mereka selalu menonton sampai malam hari.  Apalagi jika yang main adalah Inter Milan,  kesebelasan favorit mereka.

Jika malamnya  melihat Liga Italia,  pasti pagi hari  dibuka dengan penuh cerita.  Intinya tentang pertandingan semalam.  Golnya terjadi pada menit ke berapa , yang membuat gol siapa dan proses terjadinya gol bagaimana.  Semua menjadi bahan pembicaraan yang seru. 

Apalagi jika yang menang adalah kesebelasan favorit,  maka diskusi terus terjadi sampai berhari-hari.  Untuk melengkapi, bapaknya membelikan tabloid sepak bola yang penuh dengan foto-foto. 

Ada kecintaan tersendiri pada tabloid ini.  Sesudah dibaca sampai tamat,  tabloid disteples dan disimpan.  Jangan sampai tabloid dipakai sebagai bungkus.  Pantangan itu. 

Melihat kecintaan anak-anak saya pada sepak bola,  membuat saya mempunyai kesenangan baru yaitu membelikan kaus bola di pasar.  Saya melihat kaus-kaus bola itu begitu  cantik dengan warna-warnanya yang berani, dan tidak mahal.

Saat itu sepulang jalan-jalan  dari Pasar Besar , saya sering membeli kaus atau jaket bola.  Misalnya Brazil (kuning), Juventus (hitam putih),  AC Milan(hitam merah), Inter Milan( hitam biru),  Liverpool (merah), Argentina (biru muda).

Namun dari semua itu ada satu jaket yang selalu wajib dipakai kembaran saat sore hari yaitu jaket Arema, kesebelasan kebanggaan arek Malang. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline