Lihat ke Halaman Asli

Yudi Kurniawan

TERVERIFIKASI

Psikolog Klinis, Dosen

Dua Sisi Belajar di Rumah Kala Pandemi

Diperbarui: 15 Mei 2020   12:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: https://www.freepik.es/vector-gratis/diseno-letras-quedarse-casa_7333715.htm

Sudah dua bulan seluruh peserta didik di Indonesia melakukan pembelajaran dari rumah. Pilihan ini diambil sebagai respons atas pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Sekolah dan perguruan tinggi diwajibkan melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan teknologi. Pilihan sekolah dari rumah ini menampilkan dua sisi: aman dari pandemi atau dibuai oleh teknologi? 

Dengan belajar di rumah, guru harus menyiapkan materi dan memberikannya lewat media daring. Problem lain muncul bagi peserta didik di tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Kerepotan bertambah bagi orangtua karena anak belum sepenuhnya paham dengan konsep belajar jarak jauh. Penulis[u2] beberapa kali menerima konsultasi via telepon dari orangtua siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Orangtua bingung membagi waktu penggunaan gawai untuk anak.

Sebelum pandemi, anak hanya diberikan izin menggunakan gawai sepulang sekolah. Beberapa orangtua ada yang hanya memberikan gawai di akhir pekan. Namun dengan perubahan sistem belajar, mau tidak mau setiap harinya anak terpapar dengan penggunaan gawai untuk menerima tugas atau berkomunikasi dengan guru. Masalah timbul ketika selesai mengerjakan tugas, anak tetap tak mau lepas dari gawai. Bila sudah demikian, apa yang harus dilakukan oleh orangtua?

Dikutip dari Databoks (Jayani, 2020), penduduk Indonesia berusia 16 hingga 64 tahun berselancar di internet (pada semua perangkat) dalam sehari rata-rata mencapai 7 jam 59 menit. Adapun pengguna internet Indonesia mencapai 175,3 juta atau 64% dari total penduduk Indonesia. Mayoritas pengguna tersebut menggunakan ponsel, yaitu sebanyak 171 juta atau 98% dari pengguna internet Indonesia.

Data rerata durasi akses internet untuk anak usia di bawah 15 tahun memang belum tersedia. Namun melihat waktu total akses internet yang rerata mencapai sepertiga hari, kita patut waspada. Data tersebut diambil sebelum masa pandemi, dengan kondisi masyarakat masih bebas beraktivitas di luar rumah dan proses pendidikan masih dilakukan di sekolah.  

Di era digital seperti saat ini, penggunaan gawai dalam aktivitas manusia menjadi sebuah keniscayaan. Untuk anak di bawah usia lima tahun, WHO (2019) sebenarnya tidak merekomendasikan penggunaan gawai. WHO lebih menganjurkan aktivitas fisik yang dapat merangsang kemampuan motorik dan kognitif anak daripada aktivitas duduk dengan bermain gawai (WHO, 2019).

Meski demikian, bukan berarti gawai dan teknologi tak bermanfaat untuk anak. Riset yang dipublikasikan oleh Huda, Jasmi, Hehsan, Mustari, Shahril,...,Gassama (2017) tentang pemberdayaan teknologi untuk anak menunjukkan bahwa aplikasi gawai yang tepat dapat meningkatkan empati dan penerimaan keragaman budaya masyarakat terhadap anak.

Selain itu, anak juga dapat belajar hubungan sebab akibat dari fungsi-fungsi eksekusi yang ada pada sebuah gawai.  Di sisi lain, bila tak didampingi dengan benar, penggunaan gawai yang berlebihan pada anak dapat meningkatkan risiko perilaku agresif, perilaku seksual berisiko, dan penyalahgunaan zat (Huda dkk., 2017). Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan adaptasi teknologi bagi anak sangat diperlukan dan harus melalui bimbingan dari orangtua.   

Manajemen Penggunaan Gawai untuk Anak 

Sejatinya pendidikan merupakan tanggung jawab banyak pihak: pemerintah, institusi pelaksana pendidikan (termasuk di dalamnya adalah guru), orangtua, dan peserta didik. Dalam masa pandemi, porsi orangtua relatif bertambah untuk benar-benar mengawasi proses belajar anak, khususnya yang masih di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Oleh karena itu, orangtua dapat melakukan beberapa strategi untuk mengelola kegiatan belajar di rumah yang menarik untuk anak (Subarto, 2020), yaitu:

  • Mendiskusikan tentang aturan-aturan selama di rumah kepada anak. Misalnya, tetap menjadikan bangun pagi, mandi, dan sarapan sebagai rutinitas anak meskipun hanya di rumah saja.
  • Jika anak menunjukkan perilaku negatif akibat kejenuhan belajar di rumah, tunjukkan cara mengatasinya dan juga dampak akibat perilaku tersebut. Anak perlu memahami akibat konkret dari perilaku mereka.
  • Menjadi sahabat dan teman dalam berbagi tugas yang berkaitan dengan self-regulating learning (misalnya sebagai teman diskusi dalam menyelesaikan tugas, menjadi teman untuk bertanya), dan harus menjadi proses berkelanjutan karena kemungkinan besar pandemi berlangsung dalam waktu cukup lama.
  • Mempersiapkan dan menunjukan strategi yang konkret kepada anak dalam upaya mempertahankan kemampuan belajarnya (misalnya mempersiapkan dan menjadwalkan kegiatan belajar harian anak secara rinci).
  • Mempersiapkan petunjuk bagaimana seharusnya belajar yang efektif di rumah (misalnya memberikan anak pertanyaan dan kemudian meminta memberi jawaban secara lengkap dengan cara membaca lewat sumber literatur yang ada di rumah).
  • Berikan kesempatan pada anak untuk secara mandiri mengerjakan tugas-tugas yang rumit dan tentu harus dipersiapkan petunjuk yang dapat dijadikan acuan bagi anak, terutama bagi anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang belum memiliki kemampuan untuk mengatur kegiatan belajar secara mandiri.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline