Lihat ke Halaman Asli

Yuda Muhamad Hardiansyah

Penulis ugal-ugalan

Menghilangkan Kecanduan Energi Fosil

Diperbarui: 28 September 2017   12:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada era modern manusia telah nyaman dengan energi yang digunakan setiap hari, tanpa disadari oleh beberapa pihak sebenarnya energi memiliki jumlah yang terbatas. Bahkan dalam penggunaannya dapat mengancam lingkungan yang berdampak dalam terlahirnya bencana yang menghancurkan bumi yang kita tinggali. Seperti contohnya ialah pemanasan global yang merupakan linear dari pencemaran udara yang disebabkan oleh aktivitas manusia sehari-hari.

Penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil menghasilkan emisi hasil pembakaran yang berupa polutan, dengan secara langsung hal ini mendukung hadirnya pemanasan global,  beberapa jenis polutan yang dihasilkan contoh diantaranya CO2, CO, NOX, SOX, Pb dan zat berbahaya lainnya.

Polutan di udara yang ada belakangan ini secara garis besar merupakan ulah dari manusia, yang berimplikasi pada kesehatan setiap kehidupan manusia terancam terutama anak-anak yang memiliki kekebalan tubuh yang rawan dengan udara yang buruk. Hal ini yang menyebabkan mendorong energi terbarukan yang selain merupakan pengganti dari energi fosil juga harus energi yang ramah terhadap lingkungan untuk hadir.

Agar bumi yang kita tinggali dapat lebih baik lagi, maka sudah saatnya kita harus bisa beralih ke teknologi baru yang juga ramah terhadap lingkungan. Ketergantungan terhadap energi yang dapat habis juga perlu diwaspadai dengan mencari sumber energi yang dapat diperbaharui dalam jangka waktu yang pendek.

Energi yang berasal dari fosil merupakan hasil dari pada timbunan jutaan tahun, menjadikan jumlahnya menjadi terbatas. Sehingga energi berkelanjutan merupakan pilihan utama dalam menghadapi energi yang suatu saat dapat habis atau disebut juga dengan istilah Renewable energy.

Sumber energi baru dan terbarukan tidak hanya memiliki andil untuk dapat mengganti energi terdahulu yang dapat habis, akan tetapi juga harus mampu tidak mencemari lingkungan (Clean Energy). Seperti contoh pada energi listrik, dalam menghasilkan energi tersebut dapat merupakan hasil dari beberapa sumber energi seperti contohnya Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) gas, biofuel, uap, surya dan yang lainnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), menghasilkan uap dari pada pembakaran batu bara, hal ini merupakan contoh dari pada energi penghasil listrik yang tidak terbarukan dan juga tidak ramah dengan lingkungan yang ada. Batu bara yang di gunakan berasal dari fosil sehingga dapat habis dan hasil pembakarannya pun menghasilkan polusi udara hal ini sama halnya dengan Pembangkit listrik tenaga Gas alam (PLTG).

Lalu pada penghasil energi listrik lainnya seperti Pembangkit listrik tenaga Biofuel atau bio massa merupakan energi yang dihasilkan dari pada pembakaran kayu, sampah dan sisa-sisa mahluk hidup sehingga jumlahnya banyak dan berlimpah pada saat ini. Akan tetapi penggunaannya tidak ramah lingkungan karena menghasilkan gas emisi CO2. Sehingga energi ini merupakan terbarukan akan tetapi tidak ramah lingkungan.

PLT yang digunakan di Indonesia sendiri saat ini banyak mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang penggunaannya sudah cukup baik karena mengandalkan energi kinetik dari air yang jatuh karena gaya gravitasi bumi, sehingga energi ini ramah dengan lingkungan yang ada karena tidak menghasilkan polutan.

Yang dikhawatirkan dari pada energi ini memiliki kendala sehingga tidak dapat dipergunakan lagi seperti contohnya musim kemarau yang berkepanjangan di Indonesia menjadikan pasokan air ke waduk tidak memenuhi kebutuhan untuk menghasilkan energi listrik. Energi alternatif merupakan pilihan utama dalam mengatasi permasalahan ini.

Energi alternatif yang terbarukan dan juga ramah lingkungan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan alternatif pilihan karena penggunaannya yang mudah dan juga aman untuk digunakan di masyarakat, akan tetapi hal ini bukan tanpa kendala dikarenakan matahari yang hanya muncul pada ketika pagi hari sampai petang dan cuaca menjadi penentu penyerapan dari pada energi bersumber matahari ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline