Lihat ke Halaman Asli

Yan veraosmana

Glang-Glong Swasta

Bisnis Kesempatan di Dalam Kesempitan

Diperbarui: 17 Februari 2023   22:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Bisnis Kesempatan Dalam Kesempitan

Sebagai orang berduit aku bebas buat saja bisa beli apa saja. Apalagi bisnis berasku tiada matinya. Setiap hari pendapatan ku terus meningkat tajam,dengan banyaknya permintaan sesuai keinginan pasar. 

Apalagi aku terlihat sangat dermawan di mata para petani didesaku. Lantaran aku selalu memberikan kridit lunak tanpa ini dan itu, tanpa bunga dan denda. Hingga mereka dengan sangat suka rela, selalu menjual hasil panennya, kepada diri ku dengan harga sesuka hati ku. 

Hebat bukan. Itulah aku si juragan beras yang hartanya takan pernah habis buat tujuh turunan. Karena aku selalu pintar kala menyimpan gabah dari para petani dilumbung padi miliku, yang ku jadikan tempat penyimpanan gabah ku. 

Dan aku pun bisa mempermainkan harga beras dipasaran sesuka hatiku dan sesuai kehendak ku. Begitu terus menerus tiada henti. Karena diri ku memegang peranan penting baik dikalangan para petani serta dikalangan pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan.

Kala aku dapat pesanan besar dan butuh gabah sangat banyak untuk diproduksi. Aku hanya tinggal meminta kepada para petani didesaku maupun disekitar daerah ku. Untuk menjualnya kepada ku dengan harga sesuai ketentuanku.

Dan mereka pun entah itu terpaksa atau pun tidak. Pada beduyun-duyun datang ke tempat pengilingan padiku. 

Bagaimana itu bisa terjadi? Ya, karena aku selalu berbuat baik kepada semua petani padi didesa ku. Bahkan aku selalu peduli dalam melihat kesulitan dan kesusahan mereka. Dengan cara memberikan apa pun keinginan petani. 

Baik itu, memberikan modal kepada para petani. Memberikan bantuan keuangan buat keluarga para petani, sampai-sampai selalu siap memberikan pupuk, kala para petani kesulitan mendapatkan pupuknya. 

Jurus sakti ku tersebut, tiada lain tiada bukan, Supaya aku sendiri tak bersusah payah, untuk membeli padi mereka. Tapi dengan kesadaran mereka sendiri datang untuk menjual padi dari hasil panennya tanpa aku harus minta untuk membelinya. 

Sebab, para petani selalu mendahulukan ku, kala hendak menjual hasil panennya meski aku hanya berani membeli dengan harga sangat murah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline