Lihat ke Halaman Asli

Ketika Obsesi Berubah Haluan

Diperbarui: 13 September 2015   12:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman: 17)

Ayat ini mengingatkan saya pada obsesi yang sudah sekian lama belum terwujud. Satu keinginan yang akhirnya membawa saya ke sebuah bangunan luas dengan pagar tembok tinggi mengelilinginya. Kita lebih mengenalnya dengan kata penjara. Kini, namanya sudah berubah dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Pria Tangerang. Saya sangat setuju dengan kebijakan baru mengubah nama tersebut. Perubahan sebutan menjadi “pembinaan” akan memberikan kesan lebih mendidik.

Saat saya memberikan pelatihan dasar menulis (dokpri)

Lalu, apa obsesi saya yang belum terwujud itu? Ya, awalnya saya ke sana membawa status dan profesi sebagai penulis (lebih kerennya trainer menulis). Saya pun telah memberikan waktu di beberapa kali pertemuan untuk memberi pelatihan menulis kepada anak-anak di sana. Ada beberapa tulisan mereka yang masih saya simpan sampai sekarang. Namun, untuk mengubahnya menjadi kumpulan cerita pada sebuah buku, belum memenuhi syarat. Itu yang membuat angan-angan saya belum terpenuhi hingga hari ini.

Saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Namun, Allah menggiring niat saya untuk lebih memperhatikan hal yang lebih urgent ketimbang sekadar mengajarkan mereka menulis. Saya tidak bisa melawan taqdir Allah. Obsesi saya ingin mengumpulkan tulisan mereka menjadi kumpulan kisah akhirnya harus di-pending. Saya mengubah haluan dengan melebur bersama kegiatan teman-teman GPR (Gerakan Peduli Remaja) yang telah mengenalkan saya pada LPKA itu sejak 2012 lalu.

 

Sholat Tarawih bersama Imam Palestina (dokpri)


Rutinitas GPR berkunjung dan memberi layanan konseling, dakwah, pembinaan mental, dan belajar sholat serta membaca Al Qur’an, membuat saya tergerak untuk mengubah tujuan. Meskipun mengajarkan menulis tak kalah mulia dari semua layanan yang diberikan GPR kepada anak-anak LPKA itu, menurut saya saat ini mereka lebih membutuhkan pendampingan yang lebih spesifik. Saya dan GPR hadir sekali dalam seminggu untuk mendampingi mereka layaknya orangtua yang rindu pada anak-anaknya.

Selain itu, GPR juga sesekali menggelar event dengan menggandeng mantan artis/aktor yang telah hijrah dari kehidupan glamour, serta mengundang Ustad untuk memberikan dakwah dan siraman rohani. Ya, sepertinya saya sudah semakin melebur pada visi dan misi yang sangat mulia itu. “Begitu indahnya menggarap ladang amal jika hati dipenuhi keikhlasan,” pikir saya saat itu.

Bersama GPR, kini saya turut mendampingi, mendengar, memberi nasihat, contoh tauladan, serta menyediakan hati untuk anak-anak kurang beruntung itu menumpahkan keluh-kesahnya. Lalu, ayat di atas merupakan salah satu penyulut gerak hati saya yang paling kuat. Obsesi saya tidak lagi sekadar ingin berbagi pengalaman dan keterampilan menulis, tapi lebih pada memberikan pencerahan agar mereka mengerti arti kata mungkar itu.

Melihat dengan mata hati
Tidak ada anak yang terlahir nakal. Perkembangan karakter mereka tentu melalui proses panjang. Lalu, di mana mereka menjalani proses panjang yang menjadi standar ukurnya? Jawabannya adalah keluarga dan lingkungan. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan jika akhirnya mereka terperangkap pada perbuatan yang melanggar hukum. Mari kita melihatnya dengan mata hati.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline